Beranda Opini 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid I)

20 Tahun HMI Berjuang (Jilid I)

20 Tahun HMI Berjuang, Nurcholish Madjid, Himpunan Mahasiswa Islam, HMI, Cak Nur HMI, Cak Nur, Diesnatalis HMI, Majalah Panji Masyarakat

Oleh, Nurcholish Madjid (Tulisan ini pernah dimuat di majalah Panji Masyarakat edisi Maret 1967, hal. 24-26)

Pada tanggal 5 Februari 1967 di Yogyakarta, kota kelahiran HMI, telah dilangsungkan resepsi pembukaan Pekan Dies Natalis Nasional HMI yang kedua puluh. Selain pembesar-pembesar pemerintahan, seperti Pangdam VII Diponegoro dan lain-lain, dengan sendirinya datang menghadiri resepsi tersebut anggota-anggota Pengurus Besar HMI dari Jakarta.

Resepsi yang cukup meriah itu dilangsungkan di Pendopo Kepatihan dengan bantuan sepenuhnya dari fihak pemerintah daerah setempat. Kemudian pekan Dies Natalis yang berlangsung selama sebulan di seluruh tanah air itu pada tanggal 5 Maret 1967 ditutup secara nasional pula di Jakarta dengan menggerakkan apel akbar di lapangan Pancasila, dan kemudian dilanjutkan dengan pawai yang diikuti beribu-ribu massa HMI Jakarta Raya, Bandung, Bogor, Serang, Purwakarta, Karawang, Ciputat, Ciawi dan lain. Pawai yang sangat meriah itu menggambarkan kebesaran daripada ummat Islam Indonesia, yaitu sebagian daripada bangsa Indonesia yang paling banyak merasakan penderitaan di bawah kekuasaan sewenang-wenang, baik yang dilakukan oleh bangsa asing maupun yang dilakukan oleh sebagian dari bangsa sendiri yang dikepalai Soekarno.

Sejarah Kelahiran HMI

Dalam memperingati dies natalis HMI yang keduapuluh itu, kita teringat akan masa-masa lampau akan sejarah perjuangan organisasi ini untuk kejayaan dan ketinggian kalimatullah. HMI didirikan pada tanggal 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia pada waktu itu, oleh beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Islam dan Universitas Gajah Mada. Selain untuk menghimpun potensi mahasiswa Islam guna menghadapi Belanda dengan agresinya, HMI didirikan dengan motif yang kuat sekali untuk mengatasi adanya jurang pemisah antara mahasiswa-mahasiswa agama dan mahasiswa-mahasiswa umum.

Baca juga: 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid II)

Sekolah Tinggi Islam mendapatkan calon-calon mahasiswanya kebanyakan dari sekolah-sekolah agama, yaitu madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren, sehingga dalam keadaan mereka mengetahui banyak tentang keagamaan, mereka kekurangan dalam hal pengetahuan umum. Dan sebaliknya Universitas Gajah Mada, sudah barang tentu calon-calon-calon mahasiswanya berasal dari sekolah-sekolah umum, sehingga kebalikannya dari yang pertama, mereka mengetahui secukupnya tentang pengetahuan umum, tetapi sebagai orang-orang Islam mereka kekurangan dalam hal keagamaan. Maka HMI didirikan antara lain adalah untuk mengatasi keadaan tersebut, yaitu untuk menjembatani pemberian cukup agama bagi mahasiswa-mahasiswa umum, dan cukup ilmu pengetahuan umum bagi mahasiswa-mahasiswa agama. HMI mencita-citakan terbentuknya manusia-manusia muslim yang berkepribadian integral dan konsisten, yaitu pribadi-pribadi ulama-intelek dan intelek-ulama sekaligus, sehingga mampu beramal ilmiah dan berilmu amaliyah.

Seperti kita ketahui, cita-cita yang amat mulia itu juga menjadi motif didirikannya lembaga-lembaga pendidikan Islam oleh tokoh-tokoh umat Islam. Dalam hal ini sebuah pesantren di Jawa Timur yang cukup terkenal, yaitu pesantren Darussalam Gontor adalah suatu percontohan yang dapat dikemukakan. Maka dengan usaha-usaha yang sungguh-sungguh, teratur dan tepat atas dasar pengertian dan penguasaan atas permasalahannya secara mendalam, cita-cita untuk mempadukan keintelekan dan keulamaan dalam satu pribadi yang integral, ternyata bukanlah suatu hal yang tidak mungkin tercapai, seperti anggapan banyak orang.

Motif Didirikannya HMI

Sampai sekarang cita-cita yang menjadi salah satu motif didirikannya HMI itu tetap dipertahankan dan diyakini oleh organisasi ini, dan telah mendapat perumusannya dalam “Kepribadian HMI” dengan meletakkannya sebagai saah satu essensinya, yaitu essensi “Dasar Keseimbangan”.

Sudah jelas bahwa yang dimaksudkan dengan keseimbangan di sini ialah keseimbangan antara tugas-tugas duniawi dan tugas-tugas ukhrowi, antara kerja ilmu dan kerja iman, antara pemenuhan kewajiban intelektuil dan ulama, sehingga merupakan suatu “complete integration” dan tak terpisahkan satu sama lainnya dalam suatu pribadi yang integral.

Baca juga: 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid III)

Pendalaman keislaman adalah salah satu usaha HMI yang dilakukan secara intensif bagi anggota-anggotanya, terutama dalam pendidikan-pendidikan kader. Pengalaman itu diusahakan dengan pendekatan yang terbaru, sesuai dengan perkembangan pemikiran pada tingkat sekarang. Usaha-usaha itu disadari sebagai suatu hal yang mutlak harus dilakukan. Sebab tanpa usaha-usaha itu mahasiswa-mahasiswa Islam yang akan merupakan pemimpin-pemimpin ummat di masa depan itu terancam oleh keadaan ‘disoriented‘, yaitu penyimpangan dan kekaburan orientasi keislamannya dalam menghadapi masalah-masalah hidup, seperti banyak menimpa pemimpin-pemimpin Islam abad ini.

Apakah HMI telah berhasil dalam usaha itu? Tentu saja hal itu tidak dapat dikatakan sekarang. Mengingat usaha HMI yang masih sangat pendek sebagai suatu organisasi perjuangan modernis-fundamentalis, dan mengingat pertumbuhan kesadaran tersebut di atas belum cukup lama mendapatkan perumusan realisasinya yang konkret. Tetapi sebagai pemuda-pemuda mahasiswa yang beriman dan beramal untuk memperoleh ridlo Allah, setiap anggota HMI meyakini akan tibanya masa memetik buah kemenangan daripada usaha dan perjuangannya, cepat ataupun lambat.

Tetapi latar belakang kelahiran HMi, tidaklah terdapat dalam hal-hal tersebut di atas saja. Sebenarnya HMI lahir tidak terlepas dari pertumbuhan sejarah, terutama sejarah umat Islam di seluruh dunia dan sejarah tanah air Indnesia sendiri.