Beranda Opini 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid II)

20 Tahun HMI Berjuang (Jilid II)

Himpunan Mahasiswa Islam, HMI, 20 Tahun HMI Berjuang, Nurcholis Madjid, Cak Nur, Cak Nur HMI, Nurcolish Society, Panji Masyarakat, Pembaharu Pemikiran Islam Indonesia, kitahmi

Oleh, Nurcholish Madjid (Tulisan ini pernah dimuat di majalah Panji Masyarakat edisi Maret 1967, hal. 24-25)

HMI adalah himpunan mahasiswa Islam. “Mahasiswa Islam!”. Itulah yang terpenting! Sebab mahasiswa Islam itu di zaman penjajahan tidak ada. Mereka baru timbul sebagai potensi hanyalah setelah kemerdekaan. Dan kemerdekaan itu direbut serta dipertahankan untuk bagian terbesar oleh umat Islam, dengan darah para pemudanya yang menjadi syuhada’.

Kemerdekaan tanah air merupakan rahmat karunia Tuhan Yang Maha Esa yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia, dan terutama umat Islam. Pohon kemerdekaan itu dalam waktu singkat telah menjatuhkan buahnya yang manis. Salah satu buahnya yang manis itu ialah dibukanya kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk menuntut ilmu sepuas-puasnya dan setinggi-tingginya tanpa diskriminasi, tanpa pembedaan-pembedaan golongan dan tanpa syarat-syarat apapun kecuali syarat-syarat yang wajar dan objektif, seperti kecerdasan, kesehatan badan dan lain-lain.

Buah itu sungguh terasa amat manis, terutama bagi umat Islam. Kita katakan terutama bagi umat Islam karena kita kuatir bahwa golongan lain tidak begitu merasakan seperti yang dirasakan oleh umat Islam. Sebab golongan lain itu sudah merasakan kesempatan belajar itu dalam zaman penjajahan, meskipun tidak sebanyak setelah kemerdekaan.

Baca juga: 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid I)

Sedangkan umat Islam – dan di sini yang dimaksud ialah umat Islam dalam arti kata yang sebenarnya – disebabkan watak mereka yang dengan sendirinya anti-Belanda sehinggan timbul dendam kesumat antara mereka dan Belanda, pemuda-pemudanya adalah yang paling sedikit mendapatkan kesempatan belajar itu, kalaupun tidak bisa disebut tidak ada sama-sekali.

Hal itu berlaku dari tingkat pendidikan rendah, pendidikan menenagh, dan barang tentu lebih-lebih lagi pendidikan tinggi. Khusus pendidikan tinggi ini, pada waktu itu hampir bisa disebut hayal atau utopi bagi seorang pemuda Islam, biar bagaimanapun kecerdasan dan kemampuan-kemampuannya yang lain, untuk umpamanya dapat memasuki THS (Technische Hoge School) di Bandung, atau GHS (Gneeskundige Hoge School – Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta, ataupun RHS (Recht Hoge School – Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta dan lain-lain. Untuk bagian yang amat besar, kalaupun tidak seluruhnya, pemuda-pemuda pribumi (Indonesia) yang diperbolehkan oleh pemerintah kolonia Hindia Belanda untuk memasuki dan memperoleh pendidikan pada sekolah-sekolah tinggi tersebut, dan juga pada sekolah-sekolah menengah atas dan pertama, malahan sampai juga sekolah dasar yang bermutu seperti HIS dan ELS, adalah dipilihkan dan diambil dari kalangan yang memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti kebangsawanan, kekayaan, kedudukan orangtua sebagai pegawai Belanda yang patuh dan cukup berpangkat dan sebagainnya.

Syarat-syarat itu makin memperkecil kemungkinan bagi anak-anak umat Islam,- yang notabene kebanyakan terdiri daripada rakyat dengan kedudukan sosial yang rendah, miskin, dan menempuh politik isolasi dari Belanda karena kebencian mereka terhadap penjajah itu – untuk mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang cukup, apalagi yang setinggi-tingginya.

Oleh karena itu kalaupun ada zaman penjajah ada mahasiswa-mahasiswa dan pelajar-pelajar Islam, tetapi jumlah mereka sangat sedikit, dapat dihitung dengan jari tangan, atau keislaman mereka sangat tipis dan lemah, bahkan mereka sangat malu mengaku sebagai orang-orang Islam, sebab mereka katanya adalah kelas intelektual.

Oleh karena sistem pendidikan kolonial yang menumpas habis pertumbuhan pribadi yang independen, dan karena pengajaran kolonial yang secara intensif mengidentikkan keintelektualan dengan ke-Baratan, serta mempertentangkan keterpelajaran dengan keislaman, maka pelajar-pelajar dan mahasiswa-mahasiswa asuhan pendidikan penjajah ini tumbuh sebagai golongan yang membenci Islam dan membanggakan diri mereka sebagai kelas terpelajar.

Baca juga: 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid III)

Mereka kemudian menganut sebagai way of life-nya ajaran-ajaran yang sekuler atau ajaran-ajaran Barat (westernisme) pada umumnya. Maka setelah kemerdekaan tercapai pada tahun 1945, mereka kaum terpelajar ini muncul sebagai golongan yang paling tidak terpelajar. Mereka kaum terpelajar itu mungkin saja masih mau mengaku sebagai orang-orang Islam, tetapi pengakuan itu ‘hanya’ berarti “beragama Islam” (statistik) untuk tidak mengatakan beragama lain selain Islam.

Sedangkan dalam way of life-nya, merekatidak lagi berorientasi kapada ajaran-ajaran Islam. Mereka telah kehilangan kepercayaan kepada keislama, sebab bagi mereka keislaman adalah kekolotan. Dan sebagai kaum terpelajar mereka hendak menempuh kehidupan modern, sedangkan modernisme adalah identik dengan westernisme dan westernisme adalah berlawanan dengan keislaman.

Dan kita tidak usah menipu diri untuk berpendapat bahwa pandangan seperti itu hanya ada di kalangan terpelajar pada pihak “sana”, tetapi di kalangan umat Islam sendiri pun sisa-sisa itu masih sangat kuat terasa. Sehingga kalau kita tidak cepat-cepat untuk memberantas pohon jahat itu, ada kemungkinan akan tumbuh subur dan berkembang biak sebagai benalu yang hendak menghancurkan pohon Islam.