Beranda Opini 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid III)

20 Tahun HMI Berjuang (Jilid III)

Himpunan Mahasiswa Islam, HMI, 20 Tahun HMI Berjuang, Nurcholis Madjid, Cak Nur, Cak Nur HMI, Nurcolish Society, Panji Masyarakat, Pembaharu Pemikiran Islam Indonesia, kitahmi

Oleh, Nurcholish Madjid (Tulisan ini pernah dimuat di majalah Panji Masyarakat edisi Maret 1967, hal. 24-25)

Sampai sekarang masih banyak kaum terpelajar dari kalangan umat Islam sendiri yang dalam pandangan-pandangannya tentang masalah-masalah hidup dan kehidupan tidak berorientasi kepada ajaran-ajaran Islam, atau setidak-tidaknya berusaha dan mencoba berorientasi kepada Islam, tetapi mengambil teori-teori dan ajaran-ajaran lain yang sekuler sebagai tempat berorientasi. Inilah yang kita namakan disoriented.

Dan disorientasi inilah sebenarnya sebab yang paling fundamentil bagi adanya disintegrasi dan perpecahan di kalangan umat Islam. Sebab dalam masalah ekonomi, umpamanya, -untuk menyebutkan salah satu contoh yang paling menarik-, banyak pemimpin-pemimpin Islam yang menjadi kapitalis, di samping banyak lainnya yang menjadi sosialis, tetapi tidak cukup banyak yang mencoba – sedikit-sedikitnya mencoba- untuk menjadi Islamis.

Keadaan disoriented ini tentu saja tidak bisa lepas daripada sejarah umat Islam itu sendiri, terutama sejarah kemundurannya semenjak berabad-abad lamanya. Dan kemunduran itu hanyalah berarti tidak berhasilnya umat Islam untuk memahami ajaran-ajaran Islam secara benar dan tepat, apalagi melaksanakannya.

Baca juga: 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid I)

Bagi kebanyakan kaum muslimin, Islam pada waktu ini tidaklah berbeda dengan agama-agama lain bagi pemeluknya masing-masing, yaitu hanya sekedar agama dalam arti cara-cara ibadat yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Bahaya intelektualisme yang diidentikkan dengan westernisme adalah suatu kenyataan yang kini sedang kita rasakan dan alami. Sudah barang tentu Islam sebagai ajaran kebenaran suatu ketika akan dipahami kembali oleh umat Islam, bahwa seluruh umat manusia, lambat ataupun cepat, dan umat Islam suatu ketika akan menemukan dirinya kembali.

Hal itu semuanya telah menjadi jaminan dari Allah Swt kepada umat Islam, bahkan untuk sekalian umat manusia, sehingga manusia seluruhnya akan hidup menurut hukum-hukum objektif, benar dan wajar sebagaimana telah menjadi dekrit ilahi dalam zaman azali.

Itulah sebenarnya latar belakang yang lebih jauh dan fundamentil daripada lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam. HMI tidaklah lahir sebagai sekedar suatu reaksi terhadap keadaan temporer di depan mata, tetapi berakar ke dalam aspirasi umat Islam yang dikandung untuk berabad-abad lamanya.

Baca juga: 20 Tahun HMI Berjuang (Jilid II)

HMI merupakan cetusan daripada suatu tekad yang mulia, suatu manifestasi daripada kalimah thoyyibah (pernyataan yang baik). Kalimah thoyyibah itu dalam Al-Qur’an diumpamakan sebagai “pohon yang baik”, uratnya menghujam ke bumi dan cabang-cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya setiap waktu dengan seizin Tuhan (QS.Ibrahim, 24-25).

HMI berurat berakar dalam aspirasi dan cita seluruh umat Islam, dan berkembang vertikalnya sebagai organisasi pemuda-mahasiswa adalah yang paling banyak memberikan harapan untuk masa depan. Alumni HMI sudah beribu-ribu jumlahnya, dan tersebar dalam berbagai bidang kehidupan. Meskipun mungkin mereka tidak lagi berada dalam ikatan formil dengan organisasi HMI tetapi mereka tetap membawakan aspirasi-aspirasi HMI di segala lapangan, yaitu aspirasi Islam. Dan sewaktu-waktu diizinkan oleh Allah, HMI memberikan perjuangannya kepada rakyat dan umat Islam