Beranda Agama Ajak 80 Pelajar SMA, Kalangan Akademisi Berikan Kiat Perangi Radikalisme

Ajak 80 Pelajar SMA, Kalangan Akademisi Berikan Kiat Perangi Radikalisme

JAKARTA, karna.id — Beberapa lembaga survei menyatakan para remaja seringkali menjadi sasaran empuk kelompok radikal, tak jarang remaja ditangkap karena penyebaran kebencian yang berujung pada kegaduhan di media sosial. Padahal sesungguhnya remaja memiliki potensi untuk membangun masa depan bangsa dan negara.
 
Menyikapi kerentanan remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) terhadap masalah radikalisme, Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia menggelar dialog bertajuk “Tantangan Remaja Unggul Menghadapi Era Masyarakat 5.0” bersama 80 orang pelajar dari sejumlah SMA antara lain, SMA 68, SMA Penabur, SMA Muhammadiyah, SMA Pangudi Luhur, SMA Narada, SMA Labschool, SMA 8, SMA 79, SMK Maarif dan SMA Triguna.
 
Ketua Program Studi Kajian Terorisme, Muhamad Syauqillah  menyatakan bahwa remaja tidak bisa lagi menghindar dari perkembangan zaman. Menurutnya, tantangan remaja saat ini adalah bagaimana menyikapi media sosial, yang seringkali menyebarkan berita hoax.
 
“Pada titik inilah peran remaja dibutuhkan sehingga remaja tidak menjadi pihak yang justru menjadi penyebar berita hoax,” kata Syauqillah di Jakarta, Jumat (23/08).
 
Syauqillah mencontohkan peristiwa kerusuhan Papua belum lama ini. Kerusuhan tersebut salah satu faktor penyebabnya, beredar berita hoax.
 
“Maka ketika aktifitas ekonomi lumpuh, yang terkena dampak adalah masyarakat umum,” imbuhnya.
 
Pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Dr. Arief Rachman menekankan pentingnya memiliki 13 watak yang perlu dikembangkan dalam menyongsong masyarakat 5.0.
 
“Miliki watak bertaqwa, fleksibel, keterbukaan, ketegasan, toleransi, berencana, disiplin, mandiri, berani ambil resiko, setia kawan, sportif, integritas dan orientasi masa depan,” bebernya.
 
Sementara itu, peneliti Wahid Institute, Apidra Sondang menekankan pentingnya menjaga toleransi. Apidra lantas mengajak pelajar SMU agar membiasakan untuk berkomunikasi lintas budaya dan agama.
 
“Dengan begitu, maka akan memberikan pengalaman bagaimana berempati karena perbedaan,” ujarnya.