Beranda Opini Aktualisasi Fenomena Nilai-Nilai Keislaman HMI dalam Merevitalisasi Pemahaman Moderasi

Aktualisasi Fenomena Nilai-Nilai Keislaman HMI dalam Merevitalisasi Pemahaman Moderasi

Aktualisasi Fenomena Nilai-nilai Keislaman HMI dalam Merevitalisasi Pemahaman Moderasi

KARNA.id — Tulisan ini hadir sebagai ide sederhana penulis yang ingin dituangkan dalam rangka Memperingati Millad HMI yang ke 74. Berangkat dari sejarah berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam atau biasa disingkat HMI, HMI lahir pada tanggal 5 Februari 1947 yang diprakarsai oleh Prof. Lafran Pane dengan tujuan Mempertahankan NKRI dan mempertinggikan derajat rakyat Indonesia serta Menegakkan dan megembangkan ajaran agama islam. Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan kedunia melalui wahyu Allah SWT dengan perantara Malaikat Jibril.

Baca Juga: Rekontruksi Gerakan Kohati yang Mencerahkan Peradaban Bangsa

Islam menurut makna sejatinya adalah sikap pasrah dan tunduk kepada Tuhan yang maha esa, biasanya disebut Muslimin. Dalam keyakinan ini terkandung keyakinan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang harus disembah, dipuja dan diagungkan. Ajaran ini yang disebut Tauhid, inti dari prinsip tertinggi serta ajaran utama bukan hanya bagi dan dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Tetapi juga dalam semua agama yang dibawa oleh para utusan Tuhan.

Dalam Firman Tuhan pada surat Ali-Imran ayat 84-85“Katakanlah (hai Muhammad), „Kami percaya kepada Tuhan dan kepada ajaran yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‟qub serta anak turunan mereka, dan yang diturunkan kepada Musa, Isa serta para nabi yang lain dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari mereka dan hanya kepada Nya kami berserah diri. Dan barang siapa menganut agama selain Islam (sikap pasrah kepada Tuhan), tidak akan diterima dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi,”.

Pembicaraan Islam dalam HMI sebagai suatu agama dan seperangkat ajaran, serta aktualisasi nilai nilai didalamnya, karena Islam sendiri merupakan tuntunan dan pedoman bagi pemeluknya dalam menjalani kehidupan, baik dalam konteks hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Idealitas tersebut menempati ruang utama dalam khazanah pertumbuhan dan perkembangan penelaahan tentang ajaran Islam dari zaman ke zaman. Idealitas kader HMI dalam memaknai islam merupakan visi dan misi yang selalu mendatangkan inspirasi untuk merealisasikan makna agama islam itu sendiri.

Meskipun demikian, inspirasi-inspirasi yang tertuang dalam nalar justru belum dianggap mampu memberikan jawaban atas persoalan umat. Bahkan nalar tersebut hadir, tetapi justru terlepas dari masalah nyata yang dihadapi umat Islam. Dalam sejarahnya Islam berkembang sesuai zaman nya sehingga pemahaman kader HMI tentang agama islam itu sendiri tidak terpaku hanya pada satu Aliran atau Ormas tertentu, Islam dalam HMI adalah Islam yang universal, karena Watak zaman menuntut manusia untuk melakukan pembaharuan dan setiap zaman yang datang pasti membawa suatu hal yang baru yang berbeda dari kondisi masa lalu, sehingga kader hmi harus mampu merevitalisasi pemahaman moderasi di tengah peradaban yang serba modern.

Fluktuasi dinamika kader HMI hingga puluhan tahun menjadi warna dalam perjuangan eksistensi menghadapi liku-liku perkaderan organisasi dengan tantangan dan problematika yang beragam. Berbagai persoalan dalam Himpunan diantaranya Penerapan Keislaman kader hmi dan Fanatisme suatu Ormas Islam tertentu. Paradigma yang keliru oleh mahasiswa pada umumnya yang menganggap HMI itu Milik Ormas tertentu atau sebut saja Muhamadiyyah” bahkan tak jarang yang beranggapan bahwa HMI itu “Sesat” “Komunis” “Rasis” Padahal kenyataannya HMI adalah sebuah pendidikan untuk mahasiswa Islam dalam mewujudkan perubahan.

Keberagaman pemikiran kader HMI menjadi citra tersendiri dalam organisasi Ekstra kampus bukan menjadi sesuatu yang harus ditakuti oleh mahasiswa dengan menganggap Ekstremisme agama islam, perbedaan cara pandang beragama adalah sesuatu yang paling dasar seperti keimanan, maka HMI dalam didikannya memiliki pandangan Islam yang universal yang di ajarkan pada kader-kadernya. HMI memberikan kebebasan untuk melakukan upaya perbandingan antara berbagai keyakinan dalam diskusi-diskusi dan berbagai pengajaran lainnya untuk membuktikan keampuhan keimanan itu sendiri.

Memaknai tujuan HMI yaitu “Terbinanya Insan Akademis Pencipta Pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirihoi Allah SWT” maka kader HMI sudah seharusnya memiliki sifat Inklusif dalam berorganisasi maupun ketika terjun dalam masyarakat karena Indonesia merupakan negara yang Bhineka Tunggal Ika kader HMI sangat perlu mewujudkan tatanan masyarakat yang harmonis ditengah perbedaan yang ada, penyerasian perbedaan dalam menggapai cita-cita bersama merupakan bentuk wujud didikan dalam HMI.

Sebagai Insan Akademis yang bernafaskan Islam kader HMI dididik memiliki kemauan untuk saling mendengarkan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip agama. Kader HMI harus bisa melepaskan kebencian historis mereka dan bersama-sama terlibat dalam mengadvokasi nilai-nilai dasar yang dianut oleh agama Islam. Kader HMI harus bisa mengaplikasikan ilmunya sekaligus menumbuhkan toleransi beragama yang merupakan tujuan utama dalam menumbuhkan aura toleransi beragama dan pluralitas dalam Masyarakat

Kader HMI sudah semestinya mengaktualkan Nilai-Nilai Keislaman dalam bentuk tindakan nyata. Sesuai dalam kutipan Yusuf musa bahwasanya kader HMI harus mampu mengajarkan kesatuan agama, kesatuan politik, kesatuan sosial, agama yang sesuai dengan akal dan fikiran, agama fitrah dan kejelasan, agama kebebasan dan persamaan, dan agama kemanusiaan.

Pendidikan pluralisme dalam HMI yang dapat diaktualkan dalam kehidupan sosial-beragama dengan menumbuhkan sikap toleransi, kritis guna mewujudkan kerukunan antar ormas, aliran Islam serta agama lain dalam menjaga keutuhan NKRI, lalu pendidikan Humanisme dalam HMI dapat diaktualkan dalam menjaga kerukunan dan ukhuwah Islamiyah dengan jargon HMI “Berteman Lebih dari Saudara” yang merupakan aplikasi bahwa HMI tidak memandang latar belakang Ormas Islam dalam mengkader kader-kadernya. 

Maka Dalam hal ini, HMI perlu kembali menyuarakan moderasi. Sikap yang tidak ekstrim kanan, selalu menegasikan semuanya; juga tidak ekstrim kiri, menampung apapun dari luar, melainkan bersikap selektif-akomodatif.

Oleh, Yunda Azizatussoliha (KOHATI HMI Cabang Cirebon Komisariat Tarbiyah IAIN Cirebon)