Beranda Internasional Denny JA: Konflik Israel – Palestina “Hadia Nobel Perdamaian untuk Jokowi-Erdogan?

Denny JA: Konflik Israel – Palestina “Hadia Nobel Perdamaian untuk Jokowi-Erdogan?

Mungkinkah dalam era masih berkuasa, Jokowi (Indonesia) dan Erdogan (Turki) bersama mendapatkan Nobel Perdamaian atas upayanya ikut mendamaikan Palestina- Israel?

Inilah pertanyaan paling imajinatif setelah memanas kembali konflik Israel- Palestina, bulan Mei 2021 ini.

Empat tahun lalu, di tahun 2017, Presiden Amerika Donald Trump membuat “Slap of The Century.” Ia mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Ini sekaligus mengabaikan perjuangan sangat panjang dan melelahkan Palestina.

Padahal sejak lama Palestina menginginkan Jerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina dalam solusi damai dua negara merdeka.

Indonesia negara terbesar negara berpenduduk Islam di seluruh dunia. Jokowi berada dalam momen sejarah yang tak datang dua kali.

Sedangkan Erdogan, pemimpin Turki, kini semakin populer di kawasan Muslim.

Mereka berdua bisa saling mendukung untuk satu agenda besar: solusi damai Israel- Palestina.

Bagi Indonesia, Nobel perdamaian bukan pula hal yang sama sekali asing. Presiden SBY di tahun 2006 hampir mendapatkannya. Itu sebagai anugrah peran SBY (dan Jusuf Kala) dalam perdamaian Aceh.

Di era itu, Gerakan Aceh Merdeka yang puluhan tahun melakukan perlawanan bersenjata, akhirnya sepakat damai.

Tak tanggung- tanggung, saat itu SBY bahkan dinominasikan oleh Robert Wexler, anggota konggres AS. Peluang SBY bahkan dibahas positif oleh banyak negara. Namun akhirnya hadiah itu jatuh ke tangan Mohammad Yunus atas peran historiknya pada rakyat miskin di India.

Mungkinkah rintisan SBY kini dilanjutkan oleh Jokowi? Namun agar semakin kuat, Jokowi bekerjasama dengan Erdogan

Langkah pertama menuju Nobel perdamaian adalah gagasan. Solusi apa yang perlu Jokowi dan Erdogan perjuangkan?

Solusinya sudah ada dalam sejarah: lahirnya dua negara merdeka saling menghormati, bertetangga dengan damai.

Kota Jerusalem dibagi. Bagian Timur untuk Palestina. Sisanya untuk Israel.

Mengapa solusi di atas yang paling baik untuk semua?

Solusi itu didukung oleh mayoritas penduduk Israel dan Palestina sendiri. Bahkan sejak tahun 2002, survei yang dilakukan oleh PIPA mencatat sebanyak 72 persen warga Palestina dan Israel menyetujuinya.

Survei Gallup Poll di tahun 2013 mengulangi pertanyaan yang sama. Sebanyak 70% warga Palestina dan 52% warga Israel tetap mendukung gagasan dua negara merdeka yang saling menghormati, bertetangga.

Solusi dua negara merdeka sudah sangat panjang. Solusi itu pertama kali diperkenalkan tahun 1937 dalam Peel Commision Report. Solusi yang sama terus ditolak dan diperkenalkan kembali berkali kali hingga tahun ini.

Itulah solusi yang paling adil dan realistik. Tak ada dinding cukup tinggi. Tak ada senjata cukup mematikan yang dapat mendamaikan dua komunitas bertetangga itu tanpa solusi yang dirasakan adil bagi semua.

Dengan gagasan itu, Jokowi dan Erdogan maju ke OKI, menggalang pertemuan negara Islam internasional.

Dari OKI, kesepakatan yang paling strategis: OKI bersepakat mengakui Jerusalem Timur ibu kota Palestina merdeka. Dan bagian lain dari Jerusalem untuk Israel.

Ini menjadi antitesis pernyataan sepihak Donald Trump sebelumnya yang menjadikan keseluruhan Jerusalem ibukota Israel.

Tak tanggung tanggung, saat itu Trump bahkan memberikan tawaran memindahkan warga Palestina di Jerusalem ke Puerto Rico.

Ia mengira manusia itu seperti kotak kardus yang mudah saja dipindah-pindahkan.

OKI organisasi kerjasama negara yang mayoritas penduduknya Islam. Ia didirikan tahun 1969, terdiri dari 57 negara. Resolusi yang dihasilkan OKI akan bergaung internasional.

Katakanlah ini resolusi OKI yang diperbaharui kembali setelah Presiden Trump bersikeras dengan gagasan seluruh Jerusalem untuk Ibukota Israel.

Dari OKI, Jokowi- Erdogan melobi Presiden AS sekarang Joe Biden, PBB, pemimpin Israel dan Palestina.

Puncak pertemuan itu untuk mencapai kesepakatan besar abad ini. Yaitu tak hanya sepakat berdirinya dua negara merdeka. Tak hanya sepakat Two State Solution. Tapi juga sepakat membagi kota Jerusalem, sebagian untuk Palestina, sebagian untuk Israel.

Tentu kita tak bermimpi konflik Israel- Palestina tiba tiba selesai. Ini konflik sudah berakar ribuan tahun ke belakang.

Konflik di sana sudah jalin menjalin antara perebutan hak atas tanah, nasionalisme, agama, diperparah oleh dendam personal, kekerasan kolektif, disertai derita, darah dan air mata. Puluhan tahun sudah.

Namun langkah strategis Jokowi dan Erdogan atas Palestina-Israel di momen saat ini membawa angin segar.

Ini akan pula menjadi legacy besar Jokowi di dunia internasional. Jikapun kali ini tak berhasil, Ia akan dikenang ikut meletakkan satu batu bata bagi dinding karya internasional yang signifikan.***

(* Revisi tulisan di tahun 2017)

Mei 2021

CATATAN

  1. Gallup Poll 2013: mayoritas populasi Palestina dan Israel mendukung berdirinya dua negara merdeka: Israel dan Palestina