Beranda Daerah Diperlukan Kolaborasi Multi Stakeholders untuk Bangkitkan Perekonomian Nasional

Diperlukan Kolaborasi Multi Stakeholders untuk Bangkitkan Perekonomian Nasional

MALANG, karna.id — Rektor Universitas Widyagama (UWG) Malang, Agus Tugas Sudjianto berpandangan pandemi Covid-19 yang berdampak luas, salah satunya pada sektor perekonomian dibutuhkan kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk memulihkan (recovery) denyut nadi perekonomian nasional.

Agus mengatakan, terdapat satu metode yang melibatkan semua pihak, yakni pentahelix.

“Pentahalix merupakan suatu bentuk cara mengatasi masalah atau pengembangan program dengan melibatkan pihak-pihak dari berbagai sektor,” kata Agus yang menjadi keynote speaker dalam webinar nasional “Prospek Ekonomi Tahun 2021 dari Berbagai Perspektif” yang digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyagama (FEB UWG) Malang bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mercubuana Jakarta, belum lama ini.

Menurut Agus, webinar nasional kali ini menghadirkan representasi berbagai stakeholders. Ada pemerintah yang diwakili kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), akademisi yang diwakili rektor Universitas Trilogi Jakarta, ada pelaku usaha yang diwakili Sandiaga Uno, dan pengamat yang diwakili ekonom senior INDEF, Aviliani.

Agus berharap para pemangku kepentingan yang akan berbicara dalam forum ini mampu mengkolaborasikan pandangannya yang membangun optimisme dan solutif untuk menggerakan kembali perekonomian nasional tahun 2021.

‚ÄúPandemi bukanlah akhir dari segalanya karena pandemi Covid-19 juga mempunyai dampak positif tersendiri bagi manusia dan lingkungan kita,” kata Agus.

Pengusaha muda nasional, Sandiaga Uno mengatakan, saat ini yang dibutuhkan untuk mengembalikan perekonomian adalah kolaborasi antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Pasalnya, kolaborask ini sangat penting untuk dapat bangkit bersama.

“Selain itu kita harus memberi liquiditas baru untuk pemulihan ekonomi masyarakat,” kata Sandiaga.

Rektor Universitas Trilogi Jakarta, Mudrajad Kuncoro mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan 2 tahun 2020 anjlok menjadi -5,32% (yoy). Bahkan secara kuartalan (qtq) sudah -2,41% triwulan 1-2020 dan -4,19% triwulan 2-2020.

Akibatnya, tingkat kemiskinan naik dari 9,2% (24,7 juta) jadi 9,7% (26,4 juta), dan ketimpangan naik dari 0,38 menjadi 0,381.

Mudrajad yang merupakan guru besar Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta mendorong kerangka paket kebijakan untuk mengantisipasi dampak Covid-19 dan ancaman resesi ekonomi.

“Diperlukan instrumen kebijakan yang meliputi, perlindungan sosial dan kesehatan, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, kebijakan dan program pemulihan UMKM dan sektor stratejik, dan kebijakan perdagangan dan investasi,” terangnya.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan disahkannya Undang Undang Cipta Kerja akan memudahkan kita untuk lebih cepat membangun usaha dalam hal yang berkaitan dengan perizinan usaha.

“Sebagai warga negara Indonesia kita harus turut aktif menghidupkan kembali perekonomian Indonesia dengan menjadi pengusaha dan tidak menjadi buruh di negara kita sendiri,” terangnya..

Ekonom INDEF, Aviliani berpendapat, pandemi Covid-19 yang belum jelas berakhirnya membuat kita harus kreatif dan inovatif.

“Jadikanlah krisis menjadi lingkungan baru untuk berkolaborasi dengan persiapan yang matang,” ujar Aviliani. ***