Beranda Hukum Eks Koruptor Jadi Komisaris, Ini Kata ICW

Eks Koruptor Jadi Komisaris, Ini Kata ICW

Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritik keras penunjukan mantan terpidana kasus korupsi, Izedrik Emir Moeis, menjadi komisaris BUMN PT Pupuk Iskandar Muda (Rinaldy Sofwan Fakhrana)
Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritik keras penunjukan mantan terpidana kasus korupsi, Izedrik Emir Moeis, menjadi komisaris BUMN PT Pupuk Iskandar Muda (Rinaldy Sofwan Fakhrana)

JAKARTA, Karna.id – Eks Koruptor Emir Moeis dikritik habis-habisan oleh ICW atas penunjukan dirinya menjadi komisaris BUMN PT Pupuk Iskandar Muda.

Koordinator ICW, Adnan Topan Husodo, menanyakan penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) pada penunjukan tersebut.

GCG merupakan prinsip dasar dalam suatu proses dan mekanisme pengelolaan peruhaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. Adapun prinsip itu terdiri dari transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran.

Adnan menilai penunjukan mantan terpidanan korupsi menjadi komisaris semakin menunjukkan kemunduran BUMN. Hal itu akan membuat BUMN tidak bekerja dengan baik dan merugi.

Adnan mengatakan “adanya pembiaran soal rangkap jabatan yang masif, korupsi yang kerugiannya membuat APBN harus menambalnya melalui skema-skema tertentu”.

Adnan menjelaskan bahwa BUMN adalah salah satu institusi milik negara yang menjadi tempat menggiurkan dalam ajang perebutan akses ekonomi.

“Kita menduga BUMN itu memang menjadi salah satu badan hukum milik negara yang menggiurkan bagi siapa saja dalam rangka perebutan akses ekonomi”.

Emir Moeis menduduki jabatan komisaris sejak 18 Februari 2021 dapat kita ketahui dari informasi yang terpampang di website Pupuk Iskandar Muda, pim.co.id

Emir Moeis sendiri merupakan politikus PDIP. Ia pernah menjadi anggota DPR pada 2009-2014 lalu. Ia pernah melakukan korupsi dan akhirnya ia harus menerima hukuman penjara selama 3 tahun dengan denda Rp 150 juta oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 20214

Ia menerima suap sebesar US$423ribu dari Alstom Power Incorporate (USA) agar memenangkan proyek pembangunan di Lampung pada 2004 lalu.