Beranda Opini HMI di Tengah Krisis Kepemimpinan (Bagian I)

HMI di Tengah Krisis Kepemimpinan (Bagian I)

Himpunan Mahasiswa Islam, HMI, Cipayung Plus, Kelompok Cipayung, Milad HMI, Dies Natalis HMI, Organisasi Mahasiswa, NDP HMI, Mission HMI, Kita HMI, M. Zahrin Piliang, Ketua Umum HMI Cabang Medan 1983-1984
Logo Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ke-73 (Foto: Architecture and Graphic Design @bugis7alh/ Bugis Al Himdawi)

Oleh, M. Zahrin Piliang (Ketua Umum HMI Cabang Medan 1983-1984 Menyambut Milad ke 73 HMI 5 Februari 1947 – 5 Februari 2020)

Tidak terasa,hari ini 5 Feruari 2020 HMI memasuki usia ke 73 tahun. Jika dianalogikan dengan manusia, sesungguhnya HMI sudah memasuki masa sepuh, yang daya tahan dan daya pikirnya juga megalami sepuh alias menurun, paling tidak, tidak seperi usianya di bawah 60 tahun. Memang ada pengecualian, bagi seorang Mahathir, di usianya yang ke 93 masih menduduki jabatan Perdana Menteri, sebuah jabatan politik tertinggi dalam sistem pemerintahan parlementer. Dan jabatan PM itu merupakan kali kedua bagi Mahthir, setelah sebelumnya juga menduduki jabatan yang sama sekitar lebih 20 tahun.

Tentu berbeda dengan HMI. Ia tidak pernah berada di puncak kekuasaan politik di negeri ini, negeri yang lebih tua dua tahun darinya. HMI, memang pernah mencatatkan sejarahnya, sebagai organisasi mahasiswa yang menakutkan bagi Partai Komunis Indonesia (PKI), karena itulah PKI minta HMI dibubarkan. Tak tanggung-tanggung, PKI bahkan mencap CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia), organisasi mahasiswa underbouw PKI, sebagai banci, jika tak mampu menghentikan gerak langkah HMI. Aidit menyuruh CGMI pakai sarung apabila laju HMI tak terbendung.

Di masa Orde Lama, begitu tangguh, dan disegani oleh kawan dan lawan. Salah satu faktor yang membuat HMI demikian karena kepemimpinan HMI di tengah-tengah kehidupan kemahasiswaan, baik secara individual maupun kolektif kelembagaan memiliki kualitas intelektual yang mumpuni, dan menjadi magnet yang mampu membuat orang tertarik padanya. Ketangguhan itu bahkan sampai di awal-awal pemerintahan Orde Baru, ketika HMI disebut-sebut sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam pembaharu, sekaligus sebagai pemasok sejumlah tokoh di pemerintahan, politik, kampus, dan kemasyarakatan. Tulisan ini akan mencoba menyoroti dimensi Kepemimpinan HMI yang kini sedang mengalami krisis yang relatif akut.

Benturan Tiga Gelombang

Merujuk pada Futurulog Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave,  peradaban manusia dibagi ke dalam 3 (tiga) gelombang. Gelombang  pertama (800 SM- 1500 M). Pada masa ini manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian, yang ditandai oleh kebiasaan manusia yang berpindah-pindah (karena mata pencaharian mereka berburu dan meramu/meracik-nomaden) beralih menjadi menetap. Sistem ekonominya subsisten, yaitu suatu kehidupan ekonomi yang ditandai oleh mata pencaharian tradisional yang bergantung pada alam (Kontjariningrat, Pengantar  Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru, 1986, hal 268-270). Gelombang kedua (1500 -1970). Pada gelombang ini ditandai oleh masyarakat industri, “manusia ekonomis” yang rakus, yang baru lahir dari renaissance (berakhirnya masa gelap di Eropa); munculnya pemikiran dari Adam Smith dalam The Wealth of Nations, dan Charles Darwin dalam The Origin of Species. Terjadi  (1) imperialisme dan kolonialisme, (2) berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi masssa, dan media massa, (3) pertumbuhan ilmu dan teknologi yang pesat, (4) urbanisasi dan pembangunan di kota-kota besar, penggunaan energi yang bersifat massif dan tidak dapat diperbarui, dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Baca juga: HMI di Tengah Krisis Kepemimpinan (Bagian II)

Merujuk pada Futurulog Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave,  peradaban manusia dibagi ke dalam 3 (tiga) gelombang. Gelombang  pertama (800 SM- 1500 M). Pada masa ini manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian, yang ditandai oleh kebiasaan manusia yang berpindah-pindah (karena mata pencaharian mereka berburu dan meramu/meracik-nomaden) beralih menjadi menetap. Sistem ekonominya subsisten, yaitu suatu kehidupan ekonomi yang ditandai oleh mata pencaharian tradisional yang bergantung pada alam (Kontjariningrat, Pengantar  Ilmu Antropologi, Jakarta : Aksara Baru, 1986, hal 268-270). Gelombang kedua (1500 -1970). Pada gelombang ini ditandai oleh masyarakat industri, “manusia ekonomis” yang rakus, yang baru lahir dari renaissance (berakhirnya masa gelap di Eropa); munculnya pemikiran dari Adam Smith dalam The Wealth of Nations, dan Charles Darwin dalam The Origin of Species. Terjadi  (1) imperialisme dan kolonialisme, (2) berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi masssa, dan media massa, (3) pertumbuhan ilmu dan teknologi yang pesat, (4) urbanisasi dan pembangunan di kota-kota besar, penggunaan energi yang bersifat massif dan tidak dapat diperbarui, dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Gelombang ketiga (1970-2000). Toffler menyebut masyarakat ini sebagai masyarakat informasi dengan ciri-ciri (1) kelangkaan bahan bakar fossil, kembali ke energi yang dapat diperbarui, (2) proses produksi yang cenderung menjadi produksi massal dan terkonsentrasi, (3) terjadi deurbanisasi dan globalisasi karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi (4) peradaban gelombang ketiga merupakan sintesis dari gelombang pertama (tesis) dan gelombang kedua (antitesis). Gelombang ketiga ini juga disebut sebagai Knowledge Age, karena menggunakan satelit komunikasi, kabel optik dalam jaringan internet, masyarakat mampu berkomunikasi secara online, dst.

Toffler mengemukakan bahwa perang saudara di Amerika sesungguhnya adalah benturan antara dua gelombang : gelombang pertama (masyarakat pertanian, cenderung tertinggal), yang diwakili selatan, dan gelombang kedua (masyarakat industri, terindikasi lebih maju) yang diwakili utara. Pesannya, kata Cak Nur, setiap benturan antara gelombang-gelombang akan menimbulkan krisis yang tidak kecil, bahkan cenderung parah, karena dapat berwujud menjadi perang saudara, walau juga dapat terbatas hanya pada krisis-krisis sosial, budaya, politik, bahkan psikologis. Tetapi, sekalipun terbatas, tetapi dampaknya cukup parah.(Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis tentang masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderenan, Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992, hal. XV-XVI).

Diingatkan oleh Toffler, betapapun kecilnya krisis-krisis itu tidak boleh diremehkan persoalan dan akibatnya. Karena itu dalam membuat suatu keputusan yang terkait pada masyarakat baik langsung mamupun tidak langsung harus memperhitungkan persoalan dan dampak yang ditimbulkan oleh benturan-benturn tersebut. Dari kerangka penglihatan itu, Cak Nur berpandangan bahwa krisis yang dihadapi Indonesia saat ini sangat besar, kompleks, dan bisa berdampak  pada kemanusiaan. Alasannya, karena bangsa Indonesia sedang mengalami proses industrialisasi, yang dengan sendirinya Indonesia sedang mengalami perbenturan antara gelombang pertama dan gelombang kedua seperti di Amerika abad yang lalu. Dampaknya, di satu sisi ada masyarakat yang relatif lebih maju dengan pendapatan yang tinggi, di sisi lain terdapat masyarakat yang masih terbelakang yang pendapatannya sangat rendah.

Menurut Cak Nur, krisis yang diakbatkannya terlihat sehari-hari dengan kasat mata dalam bentuk gejala-gejala sosial-budaya yang negatif, seperti dislokasi, deprivasi, ketercabutan akar (budaya), dll. Cak Nur berpendapat, sekalipun benturan itu tidak menimbulkan perang saudara, namun krisis di Indonesia jauh lebih gawat daripada di Amerika. Karena sekarang dunia sedang memasuki gelombang ketiga (abad informatika), maka yang sedang berlangsung di Indonesia sesungguhnya tidak hanya benturan dua gelombang, malainkan tiga gelombang sekaligus.  Dan jika kita masukkan saudara kita yang belum mengenal pertanian maju, maka yang sebenarnya terjadi adalah perbenturan empat gelombang, yaitu sejak dari “pra-gelombang,” sampai ke gelombang ketiga Nurcholish Madjid, 1992 :XVI)

Menjauh dari Cita-Cita Keadilan

Benturan gelombang yang kita diskusikan di atas, implikasinya kini terlihat dengan nyata pada makin jauhnya Indonesia dari cita-cita keadilan-sosial seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Perekonomian Indonesia kini sepenuhnya sudah bercorak kapitalisme-Liberal  di mana peran Multi National Corporation (MNC) sangat dominan, menguasai dari hulu hingga hilir. Cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak, secara perlahan tapi pasti sudah juga dirambah oleh MNC. Sudah bukan rahasia lagi, sejumlah BUMN strategis kini diambang kebangkrutan, sebutlah Krakatau Steel, saat yang sama pabrik baja kelas raksasa dari China  sedang dibangun di Indonesia. Demikian pula dengan maskapai Garuda yang ternyata dililit sejumlah besar hutang dan siap diterkam oleh perusahaan penerbangan dari negeri luar. Sejak Orde Lama, Orde baru hingga Orde Reformasi ini, pembangunan Indonesia memang sangat bergantung pada hutang (Ahmad Erani Yustika (2005 : 170-171).

Bersambung…