Beranda Opini Inilah Cerita di Balik Tuan Rumah dan Perjalanan Kongres HMI ke XXXI...

Inilah Cerita di Balik Tuan Rumah dan Perjalanan Kongres HMI ke XXXI di Surabaya

KARNA.id — Sudah lebih dari tiga pekan Kongres HMI ke XXXI di Surabaya usai. Banyak cerita manis dan pahit sebagai membumbui perjalanan Kongres. Tak terlewatkan juga cerita manis dan pahit yang di alami oleh HMI Cabang Surabaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan Kongres HMI ke XXXI.

Sedikit akan saya kupas cerita tentang manis dan pahit yang dialami HMI Cabang Surabaya sebagai tuan rumah Kongres HMI ke XXXI.

Saya sebagai kader HMI Cabang Surabaya patut berbangga atas kesuksesan penyelenggaraan Kongres HMI ke XXXI. Banyak hal-hal yang tidak bisa saya ungkapkan mengapa saya merasa bangga. Namun, setidaknya saya mengapresiasi kerja keras kader-kader komisariat yang bahu membahu bekerjasama dalam menyukseskan Kongres. Kader-kader tersebut rela tidak dibayar demi himpunan mereka tercinta Himpunan Mahasiswa Islam. Tentunya, saya juga mengapresiasi kinerja Panitia Nasional Kongres dengan segala upayanya juga mampu berkoordinasi baik dengan kader HMI Cabang Surabaya yang menjadi panitia. Saya percaya semua itu adalah kehendak Allah SWT, karena tanpa campur tangan-Nya tidak mungkin Kongres HMI ke XXXI berjalan dengan lancar.

Dari cerita singkat manisnya perjalanan Kongres HMI ke XXXI di Surabaya kemaren nampaknya juga ada cerita pahit yang dialami HMI Cabang Surabaya sendiri. Mulai dari dugaan uang yang menghinggapi prosesi pengambilan keputusan memilih kandidat hingga keberadaan Ketua Panitia Lokal yang menggunakan segala kewenangannya untuk mengeruk keuntungan sendiri. Sekali lagi, ini saya jelaskan sebagai bentuk “dugaan”.

Bisa dibilang, kali ini Raihan Ariatama menang tanpa dukungan politis dari cabang tuan rumah. Terlepas pada prosesnya, kader-kader komisariat di HMI Cabang Surabaya berjibaku berjuang menyukseskan Kongres, meskipun tanpa koordinasi dari HMI Cabang Surabaya, alias lebih kepada kedekatan emosional senior-junior di komisariat.

Semua sudah menjadi bubur. Sudah banyak yang tahu kalau Raihan Ariatama menang tanpa dukungan politis HMI Cabang Surabaya. Kasihan saya melihat Ketua Umum HMI Cabang Surabaya yang ditekan kanan-kiri oleh senior-seniornya untuk memilih kandidat pilihan senior-seniornya. Sebut saja, Ketua Panitia Lokal Kongres HMI ke XXXI, Syafiuddin yang tidak lain juga adalah Kabid PAO Badko HMI Jatim serta Rofiki sebagai aktor yang menyesatkan dan berhasil mengarahkan Ketua Umum HMI Cabang Surabaya kepada pilihan  politik mereka berdua. Mungkin mereka berdua menganggap dirinya sukses ketika mampu mengarahkan Ketua Umum HMI Cabang Surabaya kepada pilihan politik versi mereka berdua. Hal yang sungguh memalukan mengingat keberadaan Syafiuddin sebagai Ketua Panitia Lokal Kongres seharusnya bisa fokus untuk mengkoordinasi kader-kader di kepanitiaan lokal. Namun malah sibuk mencari pihak-pihak yang mampu mengamankan dirinya untuk terus berkarir di PB HMI.  Ketua panlok yang seharusnya bersikap netral, malah menyelami peribahasa “Jauh panggang dari api”, artinya Ketua Panlok bermain mata dengan salah satu kandidat Ketua Umum PB HMI 2021-2023 yang bukan keluar sebagai pemenang. Belum lagi keberadaan Kohati HMI Cabang Surabaya yang diduga dimainkan perannya oleh Syafiuddin sehingga pelantikannya tertunda alias dilaksanakan pasca Kongres, hal ini tidak lain dengan tujuan supaya Kohati HMI Cabang Surabaya tetap dalam kendalinya selama Kongres berlangsung. Syafiuddin memanfaatkan kewenangannya sebagai Kabid PAO Badko HMI Jatim dan Ketua Panitia Lokal Kongres HMI ke XXXI untuk mengeruk kepentingan pribadinya. Hal ini cukup sebagai bukti bahwa Syafiuddin sebagai Ketua Panitia Lokal dari awal memang tidak mampu memegang teguh prinsip independen dan bersikap netral.

Sungguh sangat memalukan. Apa jadinya kalau HMI sudah sangat mendewakan retorika para seniornya dengan tidak mempertimbangkan track record seniornya, minimal rekam jejak senior yang tergolong “tuntas insan akademik” sebagai pertimbangan utama untuk menjadi teladan maupun “menentukan sikap politik”. Didukung oleh Rofiki yang mendefinisikan dirinya sendiri sebagai superdon dan  pemilik saham utama Ketua Umum HMI Cabang Surabaya. Bagi, saya ulah mereka berdua  yang dianggap senior tersebut tidak patut ditiru oleh para kader HMI, mengingat selama di HMI kita selalu di ingatkan tentang prinsip independen, yang memungkinkan kader HMI berpikir bebas dan jernih serta tidak takut atas intervensi para senior, apalagi intervensi yang mengarah kepada suatu sikap yang dianggap “blunder” dalam bersikap politis.

Tiada Gading yang Tak Retak

Ungkapan yang seharusnya menyertai kita semua sebagai kader HMI untuk selalu intropeksi diri atas semua kejadian-kejadian, bukan malah mengkambinghitamkan sesuatu atas sebuah kesalahan bertindak. Semoga di bulan yang penuh berkah ini kita diberi kelancaran oleh Allah SWT dalam menjalankan ibadah puasa.

Oleh, Suryo Adi Prakoso, ST (Wakil Sekretaris Umum Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) HMI Badko Jawa Timur).