Beranda Politik Islah Bahrawi Jabarkan Radikalisme di Indonesia

Islah Bahrawi Jabarkan Radikalisme di Indonesia

Generasi Muda Mathlaul Anwar,Pradana Boy, Radikalisme di Indonesia, Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, .
Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi.

JAKARTA, karna.id — Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi jabarkan paham radikalisme di Indonesia dalam kegiatan Webinar Kebangsaan yang diadakan oleh Dewan Pimpinan wilayah Generasi Muda Mathlaul Anwar Jawa Timur, Senin,(8/2).

Dalam kesempatan tersebut Islah Bahrawi mengajak masyarakat dan anak muda untuk melawan radikalisme dan Intoleransi di Indonesia. Hadir sebagai pembicara Staf khusus presiden bidang keagamaan Internasional Dr. Pradana Boy.

Islah Bahrawi mengatakan “sejak dahulu Mathlaul Anwar, NU dan Muhammadiyah selalu terdepan dalam menyuarakan Toleransi. ketiga ormas ini harusnya selalu menjadi titik tumpul dalam masyarakat untuk menyuarakan tentang radikalisme dan intoleransi di Indonesia”.

Lanjutnya” Pemerintah sangat perlu mengevaluasi ormas berbasis intoleran. Ini memang penting sekali. Bukan hanya ormas sebenarnya, tetapi pada tataran-tataran yang sifatnya tafsir-tafsir agama, kelompok-kelompok kajian maupaun juga gerakan-gerakan tersembunyi melalui lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga intelektual, itu memang harus lebih dicermati, lebih cermat lagi oleh pemerintah.

Karena menurut Islah, banyak sekali tafsir-tafsir agama yang bersifat eksklusivisme yang mengarah pada intoleran pada akhirnya. Tafsiran yang dimaksud seperti mengharamkan musik dan menganggap semua transaksi keuangan di bank itu riba.

Karena, lanjut dia, pada akhirnya suatu gerakan-gerakan ideologis yang bersifat kelembagaan itu akan membahayakan. Dia pun mengingatkan sejarah revolusi bolshevik di Rusia. Kata dia, awalnya bolshevik hanya beranggotakan enam orang. Namun, kata dia, jumlah mereka menggelembung besar karena dibiarkan.

“Ini satu contoh saja, artinya memang pemerintah tidak boleh diam terhadap ormas-ormas yang melembagakan dirinya lalu kemudian menggunakan gerakan-gerakan yang katanya Amar Ma’ruf tapi dengan cara-cara yang munkar, ini memang harus diperhatikan, mau lembaga-lembaga yang bersifat keagamaan etnis atau apapun yang bersifat identitas ini paling bahaya memang harus diantisipasi,” pungkasnya.