Beranda Artikel Jangankan Manusia, Kucing Saja Dilindungi!

Jangankan Manusia, Kucing Saja Dilindungi!

Tangis Anak Broken Home
Ilustrasi Tangis Anak Broken Home

Karna.id — Kalau melihat perangkat aturan negara kita Indonesia, tidak usah mempertanyakannya lagi lah ya. Negara pasti melindungi hak asasi manusia di dalamnya. Cuman kalau berpikir lagi, memang kita bakal mendapat perlindungan, tapi syarat dan ketentuan berlaku “hmmmm”. Nah, untuk menjelaskan syarat dan ketentuannya, saya ingin menyampaikan melalui cerita di bawah ini.

Di suatu malam, saya lagi menjalankan profesi sebagai pelacur intelektual (joki artikel) yang biasanya saya lakukan sendirian di warkop dekat kontrakan. Kemudian di tengah prosesi melacur, senior dari salah satu organisasi yang saya ikuti, tiba-tiba menelepon saya. Beliau menanyakan posisi saya dan mengatakan hendak singgah ke kontrakan saya. Karena pada waktu itu saya lagi melacur di warkop, beliau akhirnya menyusul saya ke warkop itu.

Beliau namanya Syamsuddin, biasanya saya memanggil beliau “Bang Syam”. Kata orang-orang yang saya kenal dan yang juga mengenal beliau, beliau orangnya pintar banget. Karena awalnya cuman dengar dari orang lain, membuat saya penasaran dan mencoba konfirmasi ke beliau langsung tentang omangan orang-orang tentang beliau itu.

Tentunya saya mengkonfirmasi omongan tentang beliau itu tidak pakai cara bertanya langsung beliau pintar atau tidak dong. Setiap bertemu, saya sering menanyakan beliau tentang masalah-masalah sejarah walisongo, Indonesia, Islam, termasuk juga sejarah beliau sendiri dan macam-macam pertanyaan nyeleneh lain. Cara itu menurut saya bisa mengkonfirmasi kepintaran beliau. Dan hampir semua jawaban dari beliau ke saya, bikin puas lah pokoknya.

Balik lagi kepada topik awal. Setelah beberapa saat beliau menelepon saya, tibalah beliau di warkop tempat saya melacur. Setiba di sana, beliau mengajak saya untuk makan terlebih dahulu di warung lalapan sebelah warkop itu, dan makan lah kami di sana. Lalu sesudah makan, kami berdua kembali lagi ke warkop itu.

Ngobral-ngobrol lah kami berdua di warkop itu. Setelah obrolan antara senior dan junior pada umumnya (nanya kabar, basa-basi, dll.) berakhir. Selanjutnya saya bertanya-tanya tentang teori ini dan itu kepada beliau. Kurang lebih jawaban beliau kepada saya seperti ini; “Saya malas kalo cuman berteori yang gak berbasis praktis han” (panggilan saya di organisasi itu).

Anak Tanpa Label

Nah, inilah selanjutnya penjelasan tentang syarat dan ketentuan kita untuk mendapat perlindungan. Setelah beliau memberikan jawaban itu ke saya. Beliau kemudian menyampaikan opini pada waktu itu, seperti ini:

“Kemaren, saya mau ngadain program sama anak-anak alumni pondokku. Programnya bikin rumah belajar buat anak broken home. Soalnya kita miris ngelihat mereka. Cuman kita kendalanya gak punya landasan ngadakan program itu”.

Mendengar opini beliau, jawablah saya, tapi jawaban yang sebenarnya bertanya (maklum saya terlalu jauh ilmunya dari beliau): “Maksudnya gak punya landasan gimana bang?”. Kemudian, beliau memberikan gambaran tentang opininya:

“Saya ngelihat anak broken home di dekat rumah. Pengasuhnya gak memperdulikan dia. Yang ngasuh bukan orang tua aslinya, tapi kerabat deket dari salah satu orang tuanya. Dia cuman dapet makan, minum gitu aja udah. Terus kalok saya bilang, orang yang ngasuh itu gak ngasih kebutuhan batinnya. Jadi dia itu, sering ke sana ke mari karena mungkin batinnya gak tenang”

Seketika terbesit di pikiran saya: “iya benar juga, saya juga ngerasa gitu, saya kan anak broken home juga”. Terus saya bicara dengan hati kecil; “apa beliau ini bilang gitu mau nyindir saya ya, kalo saya batinnya gak tenang, makanya sering ke sana ke mari”. Namun waktu itu, menurut saya beliau mungkin tidak tau kalo saya juga broken home. Lalu, beliau mempertegas lagi gambaran itu dengan analogi-analogi seperti ini:

“Kalau di Jawa kucing saja punya perlindungan kebudayaan. Orang-orang itu takut mau nyakitin kucing. Akhirnya kucing itu hidup aman pake perlindungan itu. Terus anak yatim misalnya, dia juga punya perlindungan agama. Karena agama ngelarang kita buat nyakitin mereka. Terus fakir miskin, anak jalanan, pinggiran mereka punya perlindungan negara, agama, dan budaya gitu.”

Mendengar penjelasan itu, saya mulai paham maksud beliau. Saya mencoba menanggapi penjelasan beliau, tapi dengan pertanyaan lagi; “Berarti anak broken home ini, gak punya perlindungan apa-apa ya bang?”. Kemudian beliau menjawab:

“Lah iya, soalnya mereka itu kadang bukan orang gak mampu, bukan anak yatim, bukan anak jalanan, bukan anak pinggiran kalau kita melihat secara lahir, tapi kalau secara batin, sebenarnya ya kayak gitu, bahkan bisa lebih”.

Belum sempat saya mengutarakan pertanyaan. Beliau mencoba meyakinkan saya lagi, dengan memberikan bukti lain untuk sementara:

“itu kalau yang saya lihat di deket rumah. Awalnya saya mikir mungkin cuman dia yang kayak gitu. Ternyata ada teman alumni pondok saya dulu, juga ngelihat di deket rumahnya di Pasuruan dan banyak yang kayak gitu. Kata dia, teman-temannya, orang yang ngasuh dan orang-orang kampung terkadang mendiskriminasi mereka kayak mukul, buli, dll. Karena orang di kampunya itu tau kalo orang tuanya dulu itu ya orang mampu. Jadinya orang-orang kampung gak loyal ke dia. Parahnya orang-orang malah mengejek anak itu, anak haram, anak terkutuk, ya yang negatif-negatif gitu lah”

Dari sini saya merasa: “ini kok semakin dekat sama ciri-ciri saya ya”. Lalu saya kembali menanyakan hal yang tadi: “Berarti landasan yang abang maksud tadi itu, landasan hukum perlindungannya ya?”. Kemudian jawab beliau, dengan jawaban yang cukup panjang:

“iya itu maksud saya. Jadi setelah saya ketemu teman alumni pondok yang sama-sama nemu anak broken home yang kayak gitu, saya sama dia, sama alumni yang lain juga berencana ngadakan program itu, tapi pada saat kita ngumpul bahas program itu, banyak dari teman-teman yang bilang susah loh, kita gak punya alasan. Gimana kita mau nyodorkan proposal ke donatur buat nyumbang dana ke program kita. Ya, kalo anak yatim, mereka pasti mau soalnya dapat pahala”.

Mendengar itu, saya mencoba memberi solusi ke beliau, sesuai profesi saya sebagai pelacur intelektual ini. Adapun solusi saya seperti ini:

“Mungkin langkah awalnya, kita bisa menyuarakan ke media dulu ya bang. Soalnya menurut saya, orang-orang masih banyak yang belum tau sih masalah kayak gini. Mungkin emang ada dari mereka yang baik-baik saja, tapi yang kayak abang jelasin kan juga banyak”

Beliau merasa cocok dengan solusi tersebut dan kemudian mengindahkannya. Kemudian beliau berkata:

“Nah iya, mungkin itu salah satu caranya. Kita harus ngasih informasi dulu ke masyarakat tentang kondisi mereka ini. Jadi setelah masyarakat semua tau kondisi mereka. Baru mungkin program yang saya rencanakan ini bisa lanjut. Cuman yang pasti kita harus nyari data yang valid dulu tentang keberadaan mereka ini”

Kemudian saya bertanya lagi ke beliau: “Jadinya penyebutan anak broken home ini lebih cocoknya apa bang?”. “Anak tanpa label, karena gak punya label perlindungan itu”, jawab beliau. “Oh iya, saya nanti buat artikel tentang anak tanpa label. sampean tunggu ya bang!”.

Alhasil kesimpulan kami, kita baru akan mendapat perlindungan ketika kita memiliki label-label tertentu. Cerita ini harus segera saya tuliskan dan saya terbitkan ke media, baik konvensional maupun digital atau mainstream maupun ekstrim. Karena baru solusi ini yang kami dapatkan. Tujuan kami juga untuk mengumpulkan data-data dan fakta-fakta Anak Broken Home. Sekian terimakasih untuk para pembaca. Mari kita buat Aliansi Broken Home Bersatu! untuk memperjuangkan label kita.