Beranda Artikel JIWASRAYA: JALAN CENDANA 1000 KARAT

JIWASRAYA: JALAN CENDANA 1000 KARAT

Kasus Jiwasraya yang melenyapkan dana negara dan nasabah demikian banyak, membuka laci-laci memori kita sebagai warga republik ini tentang ruang gelap kerja-kerja jahat para kera-kerah putih. Jiwasraya sebagai salah satu BUMN dari sekian ratus BUMN yang dilahirkan di republik ini sebagai benteng-benteng ekonomi pribumi sadar atau tidak telah diambil alih secara diam-diam, “silent takeover” oleh segelintir orang, yang sejak awal berniat melakukan perampokan secara berjamaah.

Jiwasraya juga mengingatkan kita pada masa lalu, khususnya ketika Orde Baru tumbang. Ketika Soeharto, Sang “Smiling General” jatuh, kasus pertama dan utama yang menjadi bidikan media dan perhatian warga adalah kekayaan negara yang dirampok secara berjamaah oleh “Cendana” dan kolega.

Sang singa tumbang. Dengan terpaksa ‘legowo’ mengumumkan pengundururan dirinya setelah mengelola republik dengan tangan besi selama lebih dari 32 tahun. Sang Singa akhirnya takluk pada kemauan mayoritas warga dan menafikan elit penjilat, yang masih bercokol di telinga dengan satu suara tunggal: Bapak masih diinginkan warga.

Di sisi dan ruang sebelah, sigap para “Srigala jalanan” menyeruduk masuk Senayan. Dari situ singgasana dan istana direbut. Ya, senayan adalah simbol singgasana dan kedaulatan warga. Senayan adalah legitimasi untuk selanjutnya mengambil alih palu republik.

Sejarah kemudian mencatat, srigala-srigala dari segala latar sosial; aktivis kampus, cerdik-cendikia kampus, pengusaha non-cendana, kepala kampung, keluar sebagai pemenang. Era baru tiba, para Srigala yang, selanjutnya disebut reformis keluar sarang, berlomba mengambil alih palu Republik, yang selama ini tersimpan rapih di jalan Cendana.

Warga berharap ada kejutan masa depan. Berharap era baru yang disebut reformasi memberi ruang bebas; bebas dari kemiskinan, kebodohan, busung lapar, juga bebas menyampaikan pendapat.

Namun kemudian, ruang harap tinggal ruang harap. Ruang itu tidak pernah ter-isi. Ruang itu hanya kosong belaka. Dinamika reformasi terus mengayuh di antara merebut kuasa dan atas nama kepentingan warga. Retorika semangat reformasi masih didengungkan tiap saat. Hingga warga republik dikagetkan dengan JIWASRAYA. Pada titik ini, kita haqqul yakin bahwa reformasi terdistorsi. Ya, reformasi telah melenceng jauh—untuk tidak dikatakan diambil alih secara diam-diam oleh segelintir orang berbaju reformasi—walau sejatinya oligarkis.

Jiwasraya yang melenyapkan dana 13T atau bahkan 30T adalah wajah republik yang terkoyak; wajah reformasi yang terdistorsi; wajah reformasi yang hilang kendali; wajah yang berpindah tangan dari Singa Tua ke Srigala-Srigala Jalanan.

Akhirnya Jiwasraya adalah modus operandi perampokan berjamaah yang tidak berbeda dengan pola-pola Cendana, Bahkan melihat Dana yang hilang, bias kita sebut sebagai Cendana 1000 karat.

Apakah kita masih berdiam diri? Warga butuh keseriusan anggota Parlemen di Senayan. Salah satu keseriusan Senayan adalah Pansus Jiwasraya.

Sadikin Suhidin, Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring.