Beranda Daerah Kampung Wisata Jodipan: Keajaiban Tangan Pencipta Keindahan

Kampung Wisata Jodipan: Keajaiban Tangan Pencipta Keindahan

Kampung Warna warni Malang, Jodipan Malang, Kampung wisata malang, Jodipan malang, kota malang, wisata malang, Mahasiswa umm, Jodipan UMM
Kampung Wisata Jodipan Kota Malang

KARNA.id — Setiap kota umumnya memiliki keunikan dan karakter yang menjadi ikon di dalamnya. Ikon itu terdiri dari beragam bentuk seperti, ornamen, bangunan, dan semacamnya. Kota malang merupakan kota yang ikonik dengan udaranya yang sejuk. Kota itu juga dikenal sebagai Kota Wisata. Beraneka ragam destinasi wisata dapat dijumpai di sana, di antaranya Jatim Park 1, 2, dan 3, Museum Angkut, serta destinasi wisata lainnya yang sangat banyak jika disebutkan.

Menariknya, di antara destinasi wisata yang disebutkan, terdapat destinasi yang dulunya adalah kampung dengan kesan dan kondisinya yang kumuh, sehingga nyaris digusur pemerintah. Kampung itu tepat berada di sebelah selatan Stasiun Kota Baru Malang dan berletak di bantaran sungai Brantas, Kelurahan Jodipan.

Kampung itu menjadi salah satu opsi destinasi wisata di Kota Malang, disebabkan oleh keajaiban tangan-tangan kreatif sejumlah mahasiswa. Mahasiswa itu berasal dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Kota Malang. meskipun awalnya mereka melakukan itu karena mendapat tugas praktikum untuk mencari klien dan memecahkan permasalahan melalui sebuah kegiatan.

Namun, dengan kemampuan dan gagasan mereka sebagai kelompok terpelajar. Mereka  memanfaatkan kesempatan itu, untuk mencari klien dengan menjelajahi kampung-kampung kumuh di bantaran sungai Brantas dan menjatuhkan pilihannya pada kampung kumuh di Kelurahan Jodipan. 

Pada waktu itu, tempat pembuangan sampah (TPS) terbilang cukup jauh dari permukiman warga. Sehingga kondisi tersebut membuat masyarakat membuang sampah ke tempat yang dirasa lebih dekat yaitu sungai.

Kebiasaan itu membuat kampung di bantaran sungai Brantas tersebut kelihatan miris, karena dipenuhi dengan sampah. Mirisnya kondisi membuat para kelompok terpelajar merasa terpanggil untuk mengubah keadaan yang buruk itu menjadi lebih baik.

Melakukan pemberdayaan masyarakat atau Corporate Social Responsibility (CSR) adalah program yang diusung mereka dalam merubah situasi kampung kumuh itu. Merasa kekurangan sumber daya manusia jika hanya melakukan program itu secara berkelompok. Mereka tidak kehabisan akal. Mereka menggandeng PT. Indana untuk bersama-sama menjalankan programnya.

Ide yang pertama kali muncul di pikiran mereka adalah ide mewarnai kampung kumuh itu dengan warna yang beraneka ragam (warna-warni). Dengan diwarnainya kampung tersebut, diperkirakan warga kampung tidak akan lagi mengotori kampung mereka terutama membuang sampah di sungai. “Ketika masyarakat mempunyai lingkungan yang indah, maka mereka akan lebih menjaga lingkungan tersebut” itu yang diujarkan Nabila Firdausiyah salah seorang anggota dari kelompok terpelajar tersebut.

Ide itu selanjutnya didukung oleh tokoh masyarakat setempat, yaitu Sony Parin Ketua RW 02 Kelurahan Jodipan melalui edukasinya ke warga kampung tentang “Decofresh Mewarnai Jodipan”. Berikutnya Pak Sony berharap kegiatan ini dapat mengubah perilaku warga, mengubah kesan kumuh kampung melalui pemandangan warna-warni yang akan dibuat.

Kegiatan yang pertama dilakukan yaitu kegiatan Kerja Bakti mengecat tembok perkampungan. Kegiatan pertama itu pertanda dimulainya “Decofresh Warnai Jodipan”. Warga Jodipan antusias menyambut kegiatan yang dilaksanakan itu dengan bergabung Kerja Bakti, sejak awal dimulainya hingga selesai kegiatan.

Tak hanya itu, ternyata kegiatan yang dilakukan juga menyita perhatian beberapa orang maupun kelompok, mulai dari perorangan, komunitas, hingga instansi keamanan negara. Komunitas pegiat mural Komunitas Turu Kene (KTK),  Paskhas TNI-AU, dan 10 tukang cat Indana tak disangka antusias ikut serta mewarnai kampung itu.

Kelompok terpelajar tersebut merasa sangat terbantu oleh seluruh pihak yang turut serta dalam kegiatan mereka. Wajah kampung yang semula kumuh, seketika berubah menjadi kampung yang sangat indah dan berwarna-warni. Pada saat yang sama, warga berlomba-lomba mengecat rumah mereka masing-masing dengan warna pilihan mereka asalkan berbeda dengan warna rumah tetangga di sebelahnya.

Kampung itu kemudian dinamai dengan Kampung Wisata Jodipan. Perubahan positif yang besar tak disangka telah terjadi. Keindahan hamparan warna di kampung seketika membuat masyarakat Kota Malang atau bahkan masyarakat dari luar Kota tertarik untuk mengunjunginya. Hal itu kemudian membuat pendapatan warga setempat meningkat.

Keuninakan warna-warni akhirnya menjadi ikon kampung itu. Dan keberhasilan yang lebih besarnya kampung itu, sampai-sampai dijadikan sebagai lokasi shooting salah satu film bioskop Indonesia. Tak heran, jika pasca program itu selesai, pengunjung dan wisatawan semakin banyak datang untuk melihat keunikan itu secara langsung.

Jika kamu adalah salah satu orang dari luar Kota Malang, mungkin akan tertarik untuk mendatangi tempat itu, karena keunikan warna kampungnya. Pengunjung dibebaskan mengambil foto sesuai keinginannya. Ditambah dengan hiasan topeng-topeng, kamu bisa menggunakannya sebagai properti berfoto yang keren. Di mana terdapat beberapa topeng yang bisa dipilih dengan karakter berbeda-beda.

Akibat ide kreatif kelompok terpelajar itu, akhirnya memancing para ibu-ibu di sana untuk kreatif. Sehingga properti-properti berupa payung berwarna-warni yang dihasilkan dari tangan ibu-ibu ikut menghiasi keindahan kampung itu. Kemudian di bawah payung itu, menjadi spot berfoto paling favorit beberapa pengunjung. 

Dan pencapaian puncuknya, angka pengangguran di Kelurahan Jodipan dapat ditekan dan minimal berkurang. Remaja-remaja yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan, sekarang bisa menjadi juru parkir (jukir) dan penjaga loket di lokasi tersebut. Di sela-sela kegiatan pariwisata, warga memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka usaha kecil-kecilan seperti warung makan dan souvenir oleh-oleh. “Sekarang Kampung Wisata Jodipan ini sudah bisa mengubah warga disini. Paling tidak mereka bisa menambah pemasukan dengan berjualan. Tidak hanya itu, untuk anak-anak muda yang sebelumnya menganggur juga bisa diberdayakan dengan menjadi penjaga parkir maupun tiket”, terang Pak Sony.

Karena itu, warga sangat terbantu dengan adanya pemasukan dari retribusi dan parkir. Dengan demikian, warga tidak melulu harus melakukan iuran untuk acara setempat. Seperti imbuh Pak Sony, “Semuanya kembali ke warga lagi. Setiap enam bulan sekali kami juga membagikan sembako. Kalau ada warga yang meninggal, kami juga memberikan santunan”.

Untuk bisa menikmati keindahan kampung, kamu hanya butuh mengeluarkan dana Rp. 5000/orang. Jadi, kamu tidak perlu mengeluarkan banyak dana untuk bisa berwisata di Kota Malang, selain itu kamu juga bisa berfoto sepuasnya. Sedangkan untuk jam bukanya, kamu bisa datang mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB. 

Selain itu, di sana juga terdapat Jembatan Kaca Ngalam yang terinspirasi dari jembatan kaca terbesar dan terpanjang di dunia, yang terletak di Zhangjiajie, China. Jembatan itu, diklaim sebagai Jembatan Kaca Pertama di Indonesia. Jembatan kaca ini adalah jembatan yang menghubungkan Kampung Wisata Jodipan dengan Kampung Tiga Dimensi (tridi) kampung yang juga digagas dan dikelola oleh sejumlah tangan ajaib kelompok-kelompok kreatif di Kota Malang.

Melintasi jembatan itu dibutuhkan mental lebih. Dari atas jembatan, arus sungai Brantas terlihat begitu deras, tapi jika sudah melintas siapa pun yang melewatinya dijamin akan mencoba lagi dan akan ketagihan. “Semacam wahana wisata di tempat wisata” ujar Maharani (Wisatawan Jembatan Kaca Ngalam).

Jembatan itu memiliki panjang 25 meter, lebar 1,25 meter, dengan ketinggian 9 meter dari permukaan tanah. Jembatan ini mampu menahan beban hingga 500 kg atau setara dengan 8-10 orang per meter kaca. Di samping itu, jembatan juga mampu bertahan dari banjir besar dan memiliki daya tahan berdiri di atas sungai Brantas (Khairul Achmad/orang di balik Jembatan Kaca Ngalam).

Dengan hadirnya Jembatan Kaca Ngalam diharapkan bisa menginspirasi kampung-kampung lain di Kota Malang sehingga bisa menjadi tujuan wisatawan selanjutnya. Jodipan sukses mengubah persepsi masyarakat Kota Malang tentang permukiman di bantaran sungai. Dengan keunikan warna-warna cerah yang menunjukkan keceriaan, Kampung Wisata Jodipan senantiasa menyambut kedatangan pengunjung dengan setulus hati serta dinilai dapat menenangkan pikiran bagi mereka yang datang ke sana.

Kalau kamu ke Kota Malang naik kereta, kamu akan disambut Kampung Wisata Jodipan dari sisi kiri. Kalau kamu ke Kota Malang dari Gadang, kamu akan disapa dari sisi kanan. Tapi kalau kamu mau melihat dari atas, tidak bisa dari pesawat, jadi pakai drone saja.

“Jodipan selalu senang menyambut kedatangan”

“Jodipan selalu bisa memberi keceriaan”

“Jodipan memberi warna-warna kehidupan”

“Warna kehidupan yang mengukir senyuman bibir wisatawan”

Oleh, Moch Ainur Rozali (Mahasiswa Angkatan 2017 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang)