Beranda Ekonomi Merger Bank Syariah, Hanya Penggabungan Asset ?

Merger Bank Syariah, Hanya Penggabungan Asset ?

Zumrotun Nazia, Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

KARNA.id — Kementerian BUMN dan Otoritas Jasa Keuangan melakukan merger bank BUMN Syariah karena melihat jumlah penduduk muslim mayoritas lebih dari 160 juta, namun perkembangan ekonomi syariah sangat lambat. Selain itu alasan merger bank syariah ini dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan bank syariah dan menata kembali regulasi perbankan syariah. Adapun bank syariah yang digabunggkan yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah dan  Bank BTN. Selain itu pemerintah juga menyatakan merger bank syariah dilakukan dalam rangka menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN.

Adapun kinerja bank syariah berdasarkan data Bank Indonesia per 14 Oktober 2014 total aset perbankan syariah maupun Bank Umum Syariah (BUS) maupun Unit Usaha Syariah (UUS) mencapai Rp.260.36 triliun, angka ini hanya 4,78% dari total aset perbankan konvensional yang bernilai Rp.5.445,65 triliun. Hal ini mengalami penurunan jika dibandingkan data BI tahun 2013 porsi aset bank syariah sebesar 5,25% – 6,25% dari total aset bank umum konvensional.

Merger bank syariah selain memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan saat merger dilakukan dan akan menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar. Adapun beberapa kelemahan dari merger yaitu Fleksibelitas pengelolaan keuangan, perusahaan yang lebih kecil akan cenderung lebih lincah terhadap pengelolaan keuangan karena tidak terbebani biaya overhead yang besar. Namun untuk perusahaan-perusahaan besar tentunya memiliki biaya overhead yang cukup besar, dan hal ini berdampak pada pungurangan tenaga kerja atau pegawai. Hal ini bisa dilihat dari sejarah ketika membentuk bank Mandiri pada saat  Bapindo, BBD, BDN dan Bank Exim bergabung membentuk bank mandiri dampaknya ke semua level, mulai dari karyawan biasa hingga direktur dipertimbangkan semua oleh pemerintah.

Menangapi isu merger ini Direktur Keuangan BNI Yap Tja Soen manyatakan bahwa hal utama yang perlu diperhatikan adalah kepentingan pemilik saham minoritas dan kinerja bank hasil penggabungan kedepan. Sedangkan yang menjadi kekhawatiran adalah entitas hasil penggabungan yang awalnya untuk menekan biaya operasioanl malah akan berakibat sebaliknya. Penggabungan ini akan mengalami tekanan baiaya operasional yang akan melonjak akibat penyamaan beban bungandan operasional. Dihawatirkan beban bunga akan terkerek sedangkan pendapatan akan menurun. Selain itu bagi pihak pemegang saham harus mnambahkan modal bank hasil merger karena bank hasil merger dipastikan akan tergolong bank local berdampak sistemik, dalam ketentuan bank, bank berdampak sistemik harus menyediakan cadangan modal sebesar 1% – 2.5% dari beban resiko.

Sedangakan pakar ekonomi syariah Syafi’i Antonio mendukung rencana pemerintah dengan penggabungan empat bank ini dinilai memiliki target market yang berbeda, BSM target market bidang pendidkan, kesehatan, haji dan umroh. Sedangkan BRIS memiliki target market UMKM, BNI Syariah menargetka pada korporasi dan BTN Syariah fokuspada pembiayaan KPR Syariah. Jika ke-empat bank ini disatukan maka tidak akan terjadi kanibalisme dan bisa menargetkan nasabah yang potensial. Selain itu Syafi’I Antonio juga menyatakan keuntungan merger ini akan mengalahkan bank syariah milik Malaysia, dan Indonesia memiliki salah satu kekuatan financial dunia yang diperhitungkan dan mendekatkan dengan Dubai, Kuwait dan Bahrain.

Merger bank syariah BUMN ini jika ditinjau dari kondisi geografis Indonesia, dengan berbagai macam pulau dan karakter masing-masing wilayah yang berbeda, untuk itu Indonesia membutuhkan lebih banyak bank pemerintah untuk melayani jumlah penduduk yang banyak. Kondisi ini tentu berbeda dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapura yang memiliki jumalh penduduk relative kecil. Berdasarkan kondisi ini alangkah baiknya bank syariah BUMN ini dibiarkan seperti apa adanya tanpa merubah sistem  lagi. Namun yang perlu dipertimbangkan yaitu pada ranah spesifikasi dan fokus bisnis masing-masing bank. Misalnya Bank BTN fokus pada sektor perumahan, Bank Mandiri focus pada sektor industri, bank BNI focus pada masyarakat umum maupun korporasi.

Pandangan lain dari Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menyatakan saat ini jumlah bank syariah masih relative terbatas, dari pada melakukan merger lebih baik membiarkan bank-bank syariah BUMN untuk tetap bersaing dan mendorong pertumbuhan semakin meningkat. Selain itu pihaknya juga menegaskan pemerintah hendaknya melakukan pengembangan bisnis halal secara lebih progresif, dengan begitu pengembangan perbankan syariah akan lebih maju.

Penggabungan ini tentu harus meningkatkan kinerja dan menurunkan biaya-biaya bank syariah, sinergi sangat diperlukan untuk mencapai efesiensi dari segi penghematan serta skala ekonomis internal bank. Sinergitas ini dilakukan dengan mengurangi cabank bank tumpang tindih dan efesiensi sumber daya manusia. Hal ini tentu menjadi harapan besar masyarakat dengan adanaya merger ini harus ada sinergi dari alih tekhnologi, pengetahuan, dan pemasaran yang pada akhirnya akan mengakselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia, karena Indonesia memerlukan bank syariah berskala besar yang dapat meningkatkan efektivitas perbankan syariah. Oleh karena itu dibutuhkan pemimpin yang berintegritas tinggi untuk memimpin Bank Syariah di Indonesia.