Beranda Covid-19 Pemenuhan Hak Anak dalam Masa Pandemi Covid-19, Apa Saja?

Pemenuhan Hak Anak dalam Masa Pandemi Covid-19, Apa Saja?

DEPOK, karna.id — Pakar pengembangan kota layak anak, Dr. Hamid Patilima berpendapat organisasi Forum Anak perlu berperan dalam melakukan literasi pada anak- anak di tengah pandemi Covid-19.

Dr. Hamid mencontohkan, perlunya Forum Anak memberikan informasi mengenai jumlah orang yang terkena virus Covid-19, baik yang berstatus terkonfirmasi, dirawat, sembuh, bahkan meninggal kepada kelompok umur anak dan remaja. Hal itu bertujuan untuk membangun pemahaman bersama bagaimana menyikapi informasi tersebut.

Merujuk data resmi pemerintah (Covid19.go.id, 10/10/2020), kelompok umur 6-17 tahun yang berstatus terkonfirmasi sebanyak 25.648 anak, dirawat 6.140, sembuh 19.318, dan meninggal 105.

Dr. Hamid Patilima mengemukakan hal itu dalam webinar series Pengmas SKSG UI bertema ‘Pelibatan Forum Anak melalui Inovasi Literasi Sehat dalam Mengkampanyekan Penanganan Pandemi Covid-19’, Sabtu (10/10). Narasumber lain dalam webinar itu adalah Marissa Abdul dari Komunitas Sakura Manggarai, Dandi Ukulele dari Komunitas Dongeng Indonesia, dan Sekretaris Kelurahan Tirtajaya, Sri Atun.

Forum Anak Nasional (FAN) sebagai organisasi anak yang dibina oleh pemerintah RI melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjembatani komunikasi dan interaksi antara pemerintah dengan anak-anak di seluruh Indonesia.

“Hal itu sebagai bagian dari pemenuhan hak partisipasi anak,” kata Dr. Hamid.

Lantas, bagaimana peran Forum Anak itu sendiri? Dr. Hamid mengelompokkan ke dalam dua peran. Pertama, sebagai pelopor. Forum Anak bisa berperan melakukan kampanye pola hidup bersih dan sehat di lingkungan setempat.

“Pentingnya sarapan pagi, pentingnya zat-zat dalam makanan, wajib belajar 12 tahun, pentingnya mencuci tangan, pentingnya memakai masker, dan sebagainaya,” kata Dr. Hamid.

Dr. Hamid menambahkan, Forum Anak juga bisa melakukan penguatan teman sebaya. Misalnya, pengenalan hak anak dan perlindungan khusus. Peran berikutnya, sebagai narasumber. Anak bisa berperan sebagai narasumber baik di forum lokal, nasional, bahkan internasional.

Dr. Hamid mencontohkan seorang anak yang mengkampanyekan larangan menikah di usia muda di Nusa Tenggara Timur.

“Karena anak tersebut getol mengkampanyekan stop menikah di usia muda, dia diundang di forum internasional untuk menyampaikan pentingnya informasi tersebut,” imbuh Dr. Hamid.

Peran kedua, Forum Anak sebagai pelapor. Forum Anak perlu memerankan diri sebagai pelapor atas peristiwa yang menimpa anak-anak. Misalnya, perkawinan anak, gizi buruk, putus sekolah, adanya kekerasan, dan sebagainya.

“Intinya Forum Anak menjadi satu wadah candradimuka untuk menggodok kita menjadi individu yang lebih berkualitas,” tandasnya.

Salah satu tantangan anak-anak saat ini adalah game di gadget. Dr. Hamid bilang bahwa bermain aktif itu menjadi penting. Karenanya, pihaknya mengajak Forum Anak untuk menghidupkan kembali permainan tradisional.

Menurut Dr. Hamid, anak-anak akan mendapatkan banyak manfaat dari permainan tradisional, yakni ada kemampuan berunding, berkoordinasi mengingat bermain secara bersama, mencari strategi solusi dalam bermain, memiliki rasa tanggung jawab.

“Sayangnya itu semua sirna karena anak kini lebih memilih bermain gadget. Akhirnya, banyak anak masuk rumah sakit karena keranjingan gadget. Hidupkan kembali permainan tradisional kita, lupakan gadget!,” terangnya.

Sementara itu, Marissa Abdul dari Komunitas Sakura Manggarai mengajak anak-anak untuk menggali berbagai informasi terkait pandemic Covid-19. Diantaranya, anak-anak perlu membaca literatur relevan, selain juga bisa memanfaatkan saluran internet.

“Dengan menggali informasi akan bermanfaat bagi diri, dan bagi teman-temannya dengan berbagi informasi,” kata Marissa.

Marissa juga mengajak anak-anak untuk memanfaatkan media social yang ada untuk kegiatan positif dan bermanfaat bagi anak-anak. Misalnya, dengan mengisi konten-konten edukatif melalui video, instagram, facebook, youtube channel.
 
“Cari ide yang paling disukai dan perhatikan apakah orang dapat manfaat dari situ,” katanya.

Dandi Ukulele dari Komunitas Pendongeng Indonesia mengatakan, salah satu strategi mengatasi kebosanan anak di tengah pandemic Covid-19 adalah dengan mendongeng. Kegiatan mendongeng bisa diselipkan pesan-pesan pentingnya edukasi pola hidup bersih dan sehat bagi anak-anak.

Anggota tim Pengmas Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), Esti Suyanti berharap Forum Anak bisa mengatasi kebosanan anak-anak di rumah dengan berbagai strategi yang memberikan manfaat positif bagi anak-anak.

Esti yang merupakan Ketua PKK RW 08, kelurahan Tirtajaya, juga berharap, luaran dari kegiatan pengmas ini nantinya akan disusun literasi sehat yang dapat dijadikan bahan kampanye bagi Forum Anak untuk melakukan kampanye Covid-19.

“Covid-19 tak harus kita sikapi dengan kecemasan, tapi peran lingkungan dan semua pihak bisa membangun literasi yang jelas, literasi yang dapat dipercaya (bukan hoax), sehingga kita dapat menyampaikan kembali kepada anak-anak di rumah bagaimana kita bisa melakukan kebiasaan baru (new normal),” pungkasnya. ***