Beranda Hukum Pengacara Mengutuk KAPOLRES jadi Patung Srigala

Pengacara Mengutuk KAPOLRES jadi Patung Srigala

SUMENEP, Karna.Id — Asta Tinggi merupakan Objek Wisata Religi unggulan di Kabupaten Sumenep yang sering dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun yang berasal dari mancanegara karena menyimpan aset-aset sejarah yaitu berupa Makam Raja-Raja Keraton Sumenep dari masa ke masa.

Akan tetapi siapa sangka, cagar budaya ini ternyata menyimpan permasalahan yang demikian kompleks, tidak saja mengenai siapa yang berhak mengelola, melainkan juga ternyata melibatkan Kepolisian Resort Sumenep yang diduga ikut bermain dan ikut menikmati hasil pengelolaan Asta Tinggi secara haram.

Berdasarkan penulusuran karna.id, Asta Tinggi seharusnya dikelola oleh Yayasan Panembahan Somala (YPS). Bukan dikelola oleh Yayasan Penjaga Asta Tinggi (YAPASTI) seperti yang saat ini terjadi. Hal ini dapat diketahui dari adanya putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur yang telah berkekuatan Hukum Tetap dimana berdasarkan putusan pengadilan tersebut YAPASTI telah dihukum untuk menyerahkan situs cagar budaya ini kepada yang berhak mengelolanya yaitu Yayasan Panembahan Somala (YPS).

Bahkan, tidak itu saja. Putusan pengadilan ini sudah dilakukan eksekusi pada tanggal 18 Juli 2019, yang berarti sejak tanggal tersebut Asta Tinggi ini seharusnya sudah dikelola oleh Yayasan Panembahan Somala. Lalu bagaimana saat ini ternyata masih dikelola oleh YAPASTI?

Menurut Kurniadi, SH., selaku Kuasa Hukum Yayasan Panembahan Somala, tidak beralihnya Pengelolaan Asta Tinggi dari YAPASTI ke kliennya (YPS) disebabkan karena ada keterlibatan Oknum Polres Sumenep yang ikut merintangi terjadinya peralihan objek, hal ini terutama sangat tampak pada saat dilakukan eksekusi pada tanggal 18 Juli 2019.

Oknum Polres Sumenep membujuk rayu klien saya (Somala) untuk tidak masuk pada saat itu juga ke Areal Asta Tinggi dan menjanjikan bahwa peralihan akan dibantu dilaksanakan di lain waktu. Padahal Eksekusi sudah terjadi yaitu dengan adanya Berita Acara Eksekusi. Kalau begini kan ini namanya Eksekusi tipu-tipu“. Ungkapnya.

Kenapa disebut tipu-tipu, menurut Kurniadi, putusan yang sudah dieksekusi telah bermakna terjadi peralihan hak. Oleh karena itu, kalau eksekusi sudah terjadi tapi objek tidak beralih, maka ini berarti tipu-tipu. Lebih lanjut, unsur tipu-tipu ini menjadi sangat tampak bertelanjang ketika Kapolres yang semula menjanjikan akan membantu pengamanannya ternyata belakangan selalu menghindar.

Saya sudah beberapa kali menagih janji Kapolres untuk membantu pengamanan, baik secara lisan maupun dengan surat resmi akan tetapi Kapolres tidak konsisten. Semula bilangnya akan dibantu pengamanan dilain waktu akan tetapi belakangan berubah yaitu katanya tidak memiliki wewenang untuk membantu“. Ungkap Kurniadi dengan kesal.

Sikap Kapolres yang menolak memberikan perlindungan kepada Yayasan Panembahan Somala selanjutnya telah menjadi kasus hukum dimana Kapolres digugat ke PTUN Surabaya, terdaftar dengan Perkara Nomor: 22/G/2020/PTUN.SBY, yang saat ini putusan perkara tersebut telah berkekuatan hukum tetap dimana Kapolres Sumenep diwajibkan untuk memberikan perlindungan kepada Yayasan Panembahan Somala. Akan tetapi meskipun sudah diperintah oleh pengadilan  ternyata Kapolres Sumenep tetap tidak mengindahkan perintah pengadilan tersebut.

Sikap tidak konsisten dan keberanian Kapolres menentang perintah pengadilan tersebut, menurut kuasa hukum somala menimbulkan tanda tanya besar :

  1. Apakah Kapolres takut sehingga tidak berani mengusir Yapasti dari areal yang seharusnya menjadi hak dari somala,,,???;
  2. Atau bisa jadi Kapolres sudah mendapat Upeti Tetap atau Upeti Rutin dari Yapasti,,,???;

Untuk dugaan ke-1, sepertinya hal yang tidak mungkin Kapolres takut kepada Yapasti karena Kapolres punya personel yang banyak, dan kalaupun kurang banyak, Kapolres dapat meminta bantuan ke Polda..!!, Selain dari itu, polres memiliki persenjataan yang lengkap, dan dengan senjatanya yang lengkap itu Polres juga sudah diberi ijin untuk mengusir secara paksa terhadap setiap orang yang melawan tugas-tugas pengamanan tersebut. Jadi, sangat Tidak mungkin, Kapolres takut kepada Yapasti“. Ungkapnya sambil mengusap kumisnya dengan tangan kirinya.

Lebih lanjut, kuasa hukum somala seperti rilis yang diposting di akun facebooknya menyatakan bahwa Dugaan Kapolres mendapat Upeti Rutin dari Yapasti lebih mungkin terjadi. Sebab menurutnya, itu sangat manusiawi bagi mereka yang rakus. Toch, buktinya sudah banyak pejabat yang meskipun kaya akan tetapi ternyata masih korup.

Tapi bagaimanapun juga, Kuasa hukum Somala tetap belum berani memastikan apa yang sesungguhnya terjadi kepada Kapolres. Tidak melaksanakan putusan pengadilan karena takut kepada Yapasti, ataukah sungkan karena dapat upeti rutin dari Yapasti. Hal ini tampak dari keluhannya pada bagian akhir tulisannya yang menyebutkan: “Tapi entahlah, bagaimanapun, semua hanya dugaan-dugaan saja“, tulis Kurniadi dalam Akun Facebooknya bernama Kala Senja.

Menanggapi pernyataan keras kuasa hukum Yayasan Panembahan Somala, Kapolres Sumenep melalui media Indonesiapost.co.id. yang disampaikan oleh Kabag Humas Polres AKP Widiarti SH, bahwa persoalan Asta Tinggi, itu kasus lama, dan ini menyangkut persaudaraan, karena Asta Tinggi adalah peninggalan kerajaan dahulu kala. Terkait putusan tersebut, pihak kami belum menerima surat putusan.

Menanggapi pernyataan Humas Polres tersebut, kuasa hukum somala lebih berang lagi. “Statemen Kapolres memuat pengakuan palsu sebab Putusan sudah di upload melaui e-court, sehingga Para Pihak sudah dianggap tau, Selain itu, kata Kurniadi, Kapolres sudah diberi tau oleh pihaknya melalui surat ke Kapolres agar melaksanakan putusan. Dan surat saya itu sudah dibalas oleh Kapolres. Jadi, Kapolres kalau mengaku tidak tau, itu pengakuan tipu-tipu namanya“.

Bagi Kurniadi, bila putusan Pengadilan tetap tidak dilaksanakan dengan suka rela oleh Kapolres, maka pihaknya akan mengajukan upaya paksa yaitu melalui eksekusi disertai sanksi administratif berupa pemberhentian tetap dari jabatannya. Selain itu, pihaknya berharap Kapolres yang dianggapnya nakalnya keterlaluan ini bisa dijatuhi kutuk. “Iya. Kutuk. Dikutuk jadi Patung Serigala“. Ungkapnya kesal.