Beranda Opini Pengenalan Mahasiswa Baru: Apa Peran Mahasiswa?

Pengenalan Mahasiswa Baru: Apa Peran Mahasiswa?

Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang Rivyam Bomantara

MALANG, karna.id — Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Agent of Change, Social control, dan Iron stock. Mungkin kita telah sering mendengar kalimat tersebut di mana mana. Tapi apakah kita telah sampai pada optimalisasi serta implementasinya ?

Mahasiswa, atau yang saya maksud di sini sebagai pemuda-pemuda yang memiliki kemampuan intelektual, paham nilai-nilai sosial maupun teknologi serta memiliki kemampuan berfikir logis untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah dipilih sebagai pelaku karena memiliki potensi terbesar sebagai agen perubahan.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa mulai jauh dari rutinitasnya, diskusi ilmiah, enggan berorganisasi, condong cari aman dari hal-hal yang sebenarnya tidak adil, menjadi apatis, serta lebih banyak mengandrungi hedonisme. Mahasiswa mulai meninggalkan forum diskusi. Diskusi-diskusi ilmiah hanya dilakukan ketika presentase makalah atau sekedar dibuat atas nama tugas dosen, bukan dilandasi dengan sikap kritis seorang mahasiswa. Mahasiswa-mahasiswa mulai menjadi apatis kemudian mengandrungi hedonisme, menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup adalah tujuan utama dalam hidup. Dengan kata lain, kuliah hanya sekedar mencari materi dan masa bodoh dengan keadaan sekitar. Dalam hal ini mahasiswa cenderung tak peduli dengan hal-hal tidak adil di sekitarnya dan hanya sibuk dengan tugas kampus pada tatanan copy paste tekstual. Maka, apa sebenarnya peran mahasiswa ?

Persoalan-persoalan rasisme, isu separatisme maupun diskriminasi terhadap pihak tertentu yang saat ini melanda Indonesia membuat negeri yang dilabeli negara hukum ini goyah. Melihat kondisi ini, mahasiswa sebagai kaum yang memiliki intelegensi tinggi diharapkan mampu membawa perubahan untuk bangsa yang sedang tidak baik-baik saja ini.

Sebagai agent of change, peran mahasiswa di sini tidak hanya sebagai penggagas. Melainkan pelaku dari perubahan tersebut melalui sikap kritis seorang mahasiswa. Sebelum mengubah suatu negara, yang harus diubah terlebih dahulu adalah diri sendiri. Hindari perilaku pragmatis yang hanya bisa menerima tanpa memikirkan dan memperhatikan sesuatu yang mulai rusak. Bukan hanya soal sepintar apa beretorika atau memahami teori, ini semua tentang bagaimana aksi konkret dari mahasiswa itu sendiri. “Aksi tanpa teori adalah anarki, teori tanpa aksi adalah omong kosong”. Bukan hanya penggagas, mahasiswa harus turun jalan!

Sebagai mahasiswa, hal lain yang harus dilakukan adalah merasakan hal-hal yang ganjil dan tidak beres dalam masyarakat. Sudah sewajarnya mahasiswa memiliki sikap kritis terhadap keburukan-keburukan birokrasi yang terlihat lazim namun ternyata zalim. Mahasiswa harus mempunyai kepekaan dan jiwa kepedulian kepada masyarakat itu sendiri. Kepedulian dalam hal ini bisa melalui penyaluran pemikiran-pemikiran cemerlang, ruang-ruang diskusi, serta memberikan macam-macam bantuan mulai dari bantuan moril serta materil. Hal inilah bentuk optimalisasi dari peran mahasiswa sebagai social control. Hal yang harus ditanamkan dalam diri seorang mahasiswa sebagai social control adalah bagaimana caranya menjadi pintar merasa, bukan merasa pintar. Merasa pintar hanya akan menampilkan kesombongan, ketamakan, dan keangkuhan. Namun sebaliknya jika menjadi pintar merasa, outputnya adalah kebijakan, kebajikan, dan hal-hal baik lainnya.

Mahasiswa sebagai calon penerus bangsa “siap pakai” harus dapat mengoptimalkan peran lainnya yaitu sebagai iron stock. Sejarah membuktikan, perubahan-perubahan besar selalu terjadi di tangan pemuda. Dulu Soe hok gie dan rekan-rekannya melumpuhkan orde lama, kemudian ada gerakan-gerakan masif mahasiswa yang berhasil menggulingkan kekuasaan yang begitu kokoh bernama orde baru. Sebagai calon-calon pemimpin bangsa, mahasiswa adalah kaum yang harus mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Terlalu banyak politisi-politisi instant yang tak berkompeten di Indonesia. Mereka lahir dari sistem demokrasi yang lebih banyak menciptakan elit “narsis” yang sekedar ingin tampil dan membanggakan diri sendiri. Politisi-politisi ini hanya memperumit pemerintahan dengan janji-janji omong kosongnya. Jadi sedikit susah bagi generasi muda untuk mengubah suatu hal yang makro (besar). Tentu, dalam mengoptimalkan perannya sebagai iron stock, duduk di kelas dan mendengarkan dosen tidak cukup. Seorang mahasiswa harus selalu memperkaya diri dengan pengetahuan-pengetahuan kemasyarakatan maupun keprofesian melalui diskusi dan bergerak di komunitas masing-masing.

Jejak perjalanan mahasiswa untuk bangsa indonesia sangatlah mengesankan, mulai dari pra kemerdekaan, masa orde lama, orde baru, orde reformasi sampai orde saat ini. Peran mahasiswa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia pertama kali di mulai dari kebangkitan bangsa / berdirinya pergerakan budi utomo tepatnya tanggal 20 Mei 1908. Melalui proses kebangkitan bangsa, para pemuda telah menggelorakan semangat perjuangan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak terpecah belah dalam suku, ras, agama, dan sebagainya.

Selanjutnya pada Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 mahasiswa memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Dan pada proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 para mahasiswa ikut membantu dalam pembentukan kemerdekaan bangsa. Pada tahun 1966 dalam Pergerakan pemuda, pelajar, dan mahasiswa, tahun 1998 pergerakan mahasiswa yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun sekaligus membawa bangsa Indonesia memasuki masa reformasi. Fakta historis ini menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa selama ini mampu berperan aktif sebagai pionir dalam proses perjuangan dan pembangunan bangsa.

Komitmen bukan sekedar pencitraan tapi komitmen adalah landasan untuk melakukan perubahan. Integritas bukanlah bayangan maya, tapi kenyataan yang mana akan memberikan citra positif sendiri pada mahasiswa. Dan pengabdian bukanlah ke sia-siaan, tapi tanggung jawab atas niatan yang tulus dan ikhlas untuk kebaikan.

Mahasiswa adalah generasi cerdas-aktif, dekat dengan masyarakat, berjuang atas nama rakyat. Bangsa ini telah menaruh harapan besar ke tangan yang tepat. Telah lahir generasi yang siap memikul beban harapan masyarakat Indonesia. Kaum itu adalah kami, Mahasiswa.

Oleh, Rivyam Bomantara (Mahasiswa Jurusan Hubungan Interasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang)