Beranda Covid-19 Peran Perguruan Tinggi di tengah Pandemi Covid-19, Apa Kata Akademisi?

Peran Perguruan Tinggi di tengah Pandemi Covid-19, Apa Kata Akademisi?

MALANG, karna.id — Hingga saat ini, perguruan tinggi di tanah air sudah memberikan peran terbaik dalam penanganan Covid-19. 

Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Gama (FEB UWG) Malang, Ana Sopanah, setidaknya ada enam peran yang sudah dan akan terus dilakukan oleh perguruan tinggi.
 
Pertama, dalam bidang pendidikan melalui kekuatan knowledge power dengan menghadirkan ilmu yang lebih cepat, lebih murah, lebih bermanfaat.

Kedua, peningkatan kapasitas SDM melalui berbagai pelatihan daring (online). Ketiga, proses pembelajaran daring sebagaimana Surat Edaran Menteri Pendidikan untuk mengurangi penyebaran Covid-19.
 
Keempat, pemberiaan kuota bagi mahasiswa sebagai bentuk kepedulian pemerintah. Kelima, dalam bidang pengabdian. Diantaranya dengan melakukan bakti sosial (baksos), program charity, pemdampingan UMKM, dan masih banyak lagi.

Dan keenam, dalam bidang penelitian, melalui berbagai riset sesuai kepakarannya, misalnya hilirisasi reka cipta yaitu riset yang dilakukan untuk menemukan vaksin, dan membantu memproduksi ventilator, maupun riset tentang kebijakan pemulihan ekonomi nasional.
 
Ana Sopanah mengemukakan hal itu saat berbicara dalam Webinar bertajuk ‘Peran Pentahelix dalam Pemulihan Ekonomi Daerah’, Rabu (21/10). Narasumber lain dalam seminar tersebut adalah anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, dan direktur Jawa Pos Radar Malang, Kurniawan Muhammad. Seminar daring ini merupakan rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2020 yang digelar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang.
 
Ana menanmbahkan dampak Covid-19 sangat mempengaruhi aktivitas ekonomi, serta membutuhkan biaya yang sangat besar mengingat harus memperbaiki, dan meningkatkan daya beli masyarakat.
 
“Mengingat yang terkena dampak lebih dulu adalah UMKM. Bilamana Juli tahun depan belum berakhir, maka  akan berimbas pada sektor usaha besar,” imbuhnya.
 
Menurut Ana, dibutuhkan metode yang melibatkan semua pihak. Nah, metode yang dimaksud adalah pentahelix. Menurut Ana, pentahalix merupakan suatu bentuk cara mengatasi masalah atau pengembangan program dengan melibatkan pihak-pihak dari berbagai sektor.
 
Ana menjelaskan, konsep pembangunan pentahelix melibatkan semua unsur, yaitu akademisi, pengusaha, masyarakat atau komunitas, pemerintah, dan media (ABCGM).

Pihak-pihak terkait tersebut bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan, yang meliputi pendidikan dan pengajaran, pengabdian pada masyarakat, dan penelitian pengembangan.
 
“Metode ini berfokus pada kolaborasi antara pemerintah bersama para pemangku kepentingan hingga masyarakat,” ujarnya.
 
Dalam hal ini, sambung Ana, pemerintah selaku pembuat kebijakan (peraturan). Pihak akademisi dan praktisi menyumbangkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Pihak masyarakat sebagai ujung tombak pelaksanaan semua strategi yang dirancang pemerintah. Pihak Komunitas bisnis berperan melakukan pengembangan ekonomi dan donasi. Sementara itu, media menjadi mata, telinga, dan mulut yang menyajikan informasi  yang terpercaya dan berimbang.
 
Pada titik inilah, kebutuhan informasi yang simetrik dari para regulator, para birokrat cukup penting disampaikan kepada masyarakat. Pasalnya, saat ini masyarakat dalam posisi cukup panic, baik karena penghasilan yang sedang menurun maupun keamanan dari dananya di bank atau investasi lain.
 
“Kolaborasi stakeholder perguruan tinggi dan pihak media dapat menjadi corong dan fasilitator bagi publik,” tukasnya. ***