Beranda Sosial Perang Dagang Adalah Noumena Di Balik COVID-19

Perang Dagang Adalah Noumena Di Balik COVID-19

Abimanyu Iqbal Soesanto ( Mahasiswa Fakultas Agama Islam UMM)
Abimanyu Iqbal Soesanto ( Mahasiswa Fakultas Agama Islam UMM)

Karna.id — Dewasa ini kita dikejutkan dengan berbagai media massa yang memberitakan tentang coronavirus, virus yang bermuasal dari kota Wuhan negeri Tirai Bambu ini telah membuat masyarakat dunia waspada akan keberedaannya selain itu, virus ini memberi dampak dari berbagai aspek. Dalam ilmu medis corona virus. Merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan sampai berat, seperti common cold atau pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS.  Penularannya dari hewan ke manusia (zoonosis) dan penularan dari manusia ke manusia sangat terbatas. Secara rinci menurut WHO COVID-19 adalah pandemi yang mereka nyatakan saat konferensi pers di Jenewa. Mereka menyatakan secara resmi COVID-19 adalah pandemi dikarenakan penyebaran virus tersebut yang terpapar meninkat hingga berkali-kali lipat dibandingkan sumber asalnya sendiri yakni Wuhan (RRC). Adapun jumlah kematian global yang disebabkan oleh Corona virus telah mencapai 4.291, dari 118.000 kasus yang dilaporkan di 114 negara dan terus meningkat hingga saat kini.

Di tengah-tengah hiruk pikuk peristiwa  yang terjadi,  terdapat beberapa keresahan oleh segelintir orang, Beberapa pertanyaan itu adalah pertanyaan mengenai siapakah  sebenarnya siapa dalang utama dari fenomena COVID-19 yang terjadi pada saat ini ?, dan atas dasar apa tokoh utama itu dengan tega melakukan penyebaran Corona Virus?

Menurut Abi mahasiswa Fakultas Agama Islam UMM, dalang utama dari fenomena peristiwa yang terjadi pada saat ini adalah suatu kelompok dengan kekuatan yang sangat bagus dalam perencanaan secara sistematis dan terkoordinasi dan tentunya kelompok tersebut memiliki kekuatan sumber daya ekonomi yang sangat memadai. Namun tidak bisa dibenarkan bahwa hanya satu kelompok dengan beberapa sumber daya yang dimiliki dapat melakukan perencanaan yang begitu hebat dalam skala internasional, kemungkinan besar kelompok tersebut juga didukung penuh oleh pemerintahnya dalam melancarkan dan mensukseskan tujuannya. Dan tidak bisa dipungkiri pemerintah dalam artian negara tersebut hanya sebatas pemerintah yang tidak memiliki sumber daya manusia dan sumber daya ekonomi yang mumpuni dalam menopang kelompok tersebut untuk mewujudkan tujuannya.

Tentu Amerika adalah negara adidaya satu-satunya negara yang memiliki sumber daya ekonomi dan sumber daya manusia yang sangat memumpuni dalam kasus seperti ini, diluar dari amerika adalah negara peringkat pertama dalam segi neraca keuangan. Menurut salah satu web international dibawah naungan PBB menyebutkan bahwa amerika adalah negara tingkat pertama, dua tingkat diatas china. Terlebih lagi ketika Trump terpilih sebagai presiden amerika ke-45, dengan slogan “Make America Great Again”. Slogan tersebut digunakan Trump sebagai bentuk semangat Trump untuk mengembalikann kejayaan Amerika Serikat. Trump juga memiliki slogan “America First” sebagai dasar seluruh kebijakan Trump nantinya. Seluruh kebijakan Trump nantinya akan mengedepankan kepentingan rakyat Amerika Serikat. Dengan berslogan tersebut Trump melakukan proteksionisme. Kebijakan proteksionisme yang bertujuan untuk memangkas pajak pengusaha dalam negeri dan memperbesar pajak pengusaha dari luar negeri. Berkat kebijakan yang diterapkannya Amerika mengalami Pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Bahkan pada kuartal II 2018, ekonomi AS menghasilkan kinerja terbaik setelah hampir empat tahun. Hal ini disebabkan ekspor yang meningkat dan impor yang menurun.

Tentu dalam kebahagiaan trump yang melihat pertumbuhan ekonomi amerika yang meningkat secara signifikan, berhubungan erat dengan dengan ketertindasan para korban atas pandemic COVID-19. Mengapa bisa demikian.

Perang dagang adalah jawabanya. Secara historis China sebagai negara terbesar di Asia pada saat ini muncul menjadi kekuatan baru yang dapat menjadi suatu ancaman bagi hegemoni Amerika Serikat. Dibandingkan dengan China yang dulu, kondisi China sekarang ini telah jauh berbeda dan berubah, baik dalam segi ekonomi, politik, dan aspek lainnya. Kemajuan yang dicapai China merupakan suatu kenyataan yang perlu diperhitungkan oleh Amerika Serikat. China dipandang akan menjadi superpower baru yang potensial di masa depan. Hal ini membuatnya diperkirakan akan menjadi pemimpin yang kuat di Asia dan di dunia, tentunya disinyalir akan menjadi ancaman sebagai rival bagi Amerika Serikat.

Ketika George Bush menjadi Presiden Amerika Serikat, hanya China yang berkapasitas ekonomi maupun militer yang mampu mengimbangi Amerika Serikat sebagai negara adikuasa. Amerika Serikat membuat kebijakan mengisolasi China agar tetap pada batasannya, ketimbang menghadapinya secara langsung karena hanya akan menghabiskan energi dan kerugian lainnya. Meski tidak disampaikan secara terbuka oleh pemerintah Amerika Serikat bahwa China menjadi ancaman, namun kebijakan untuk mengisolasi China telah tersurat dari tulisan Condoleezza Rice, ia adalah penasihat kebijakan luar negeri George Bush pada tahun 2000 dalam artikel majalah Foreign Affairs, yang isinya: “China merupakan kekuatan besar yang mempunyai masalah yang belum terselesaikan terutama hubungannya dengan Taiwan. China juga tidak menyukai peran Amerika Serikat di wilayah regional Asia-Pasifik.” Selanjutnya Rice mengatakan, “China bukanlah kekuatan ‘status quo’, tapi adalah kekuatan yang memiliki keinginan untuk merubah keseimbangan kekuatan di Asia yang sesuai dengan kepentingannya. Kenyataan ini membuat China bukan hanya sebagai ‘mitra strategis’, namun juga sebagai pesaing”.

Menurut Abi kebangkitan China adalah salah satu faktor yang telah mengubah geopolitik dan geoekonomi dunia internasional. Hal ini membangkitkan adanya suatu persaingan atau rivalitas dua negara tersebut sebagai negara superpower. Bila dibandingkan dengan kebijakan Amerika Serikat terhadap China pada pemerintahan di masa lalu, strategi rebalancing saat ini jauh lebih halus dan lebih menggambarkan hubungan “persahabatan superfisial” antara China dan Amerika Serikat. Persahabatan yang superfisial ini melambangkan persaingan di antara kedua negara dibalik kerjasama dan hubungan baik di antara mereka. China dan Amerika Serikat terlihat mampu mempertahankan hubungan ini sampai sekarang. Atas landasan historis tersebut didapatkan kesimpulan bahwa dibalik fenomena COVID-19 adalah perang dagang. Hal tersebut diperjelas dan diperkuat oleh pendapat Mantan Profesor Antropologi di Cabrillo College di Aptos, California, Dennis Etler membuat analisa mengejutkan terkait wabah virus corona yang sejauh ini merenggut setidaknya 250 lebih korban jiwa, serta belasan ribu lainya terinfeksi di 24 negara. Dia menyatakan bahwa pada intinya terdapat alasan yang sangat kuat untu curiga kepada AS terkait asal mula coronavirus Wuhan. Meskipun dia juga memaparkan belum ada kejelasan yang pasti terkait sabotase dan rekayasa biologis oleh AS belum terbutki kevalidalitasanya. Menurutnya AS memiliki motif untuk merekayasa dan menyebarkan virus semacam ini di Cina.

Selain itu juga terdapat penyataan yang menguatkan bahwa Amerika adalah dalang dari penyebaran corona virus, yakni pernyataan dari Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, yang mengatakan “AS bisa kembali mendapatkan pekerjaan di China”.

Menurut Abi pernyataan dari menteri perdaganagan AS itu sangat memalukan dan tidak berperasaan, ditengah-tengah kehidupan rakyat yang sibuk dengan melindungi kesehatan dan keselamatan individu dan masyakarat, wabah virus justru dijadikan perantara khusus untuk mencapai tujuan Washington (Amerika). Abi juga masih mengkaitkan teori konspirasi kedalam peristiwa penyebaran corona virus. Dalam asumsinya ia berpendapat bahwa “Mungkin bisa saja virus itu merupakan jalur muatan dari koronavirus yang muncul secara alami, tetapi juga bisa merupakan senjata biologi yang direkayasa secara genetis, tentu pernyataan ini masih bisa diperdebatkan dalam ruang lingkup diskusi publik”.

Abi juga berpendapat bahwa AS bisa menggunakan setiap strategi yang dapat dilakukan untuk mencoba mengguncang kestabilan ekonomi China. Dalam pendapatnya, AS telah meluncurkan kampanye propaganda yang tak berkesudahan untuk mengucilkan Tiongkok, Terlepas itu bisa atau tidak yang pasti adalah Apakah itu merekayasa wabah itu atau tidak, ia memanfaatkannya untuk memajukan agendanya yang anti-Cina.

Dalam asumsinya media AS , yang merupakan hamba dari elit ekonomi dan politik, telah memainkan permainan ‘polisi yang baik dan polisi yang buruk’ ketika mereka melaporkan epidemi coronavirus Wuhan. Permainan ‘polisi baik’ terkait dengan artikel di beberap media AS yang memuji gerak cepat China untuk mengatasi wabah. “Tetapi ada juga artikel yang mengkhawatirkan menyebarkan narasi palsu dan berita palsu tentang hal itu, menghidupkan ketakutan akan penyebaran virus dan kemungkinan konsekuensinya yang mengerikan. Efeknya adalah untuk meragukan upaya China dan lebih jauh menstigmatisasi bangsa China dan rakyatnya,” katanya.

Jadi pada kesimpulanya abi berpendapat bahwa hanya satu yang pasti dari fenomena COVID-19 yang terjadi saat ini, yaitu adalah sebuah noumena yang tidak terlepas dari ekonomi dan politik, pasar dan kekuasaan, yakni perang dagang dalam skala Internasional.