Kemajuan adalah keharusan bagi HMI

Sudah terhitung selama 6 hari lamanya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang telah menyelenggarakan lanjutan Sidang Pleno II secara virtual Rabu (8/09/2021) yang sebelumnya telah berlangsung di gedung KNPI dan sempat dipending untuk sementara waktu dengan pertimbangan adanya kebijakan PPKM yang dikeluarkan oleh Mendagri pada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 tahun 2020 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali. Agenda Lanjutan Sidang Pleno II HMI Cabang Malang secara virtual tersebut didasarkan pada surat Nomor 06/A/SC/01/1443 yang telah diteken oleh Nanang A Daud selaku Koordinator SC pada tanggal 2 september 2021.

Keputusan Lanjutan Sidang Pleno II HMI Cabang Malang secara virtual yang diambil oleh koordinator SC adalah salah satu respon HmI Cabang Malang dalam menjawab tantangan zaman, terkhusus pada saat ini dimana kita dihadapkan pada era disrupsi yang mengharuskan umat manusia secara umum dan kader HMI secara khusus untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan segala aktifitasnya. Respon Koordinator SC terhadap kondisi realitas yang dalam rangka menjawab kondisi realitas adalah maksud daripada statement penulis yakni “Kemajuan adalah Keharusan bagi HMI”

Kejumudan HMI bukanlah kalimat tanpa fakta

Namun sangat disayangkan, meskipun sidang pleno II HMI Cabang Malang secara virtual sudah berjalan selama kurang lebih enam hari lamanya, tetapi pada kenyataannya selama sidang itu berlangsung masih banyak peserta utusan atau peninjau komisariat selingkup Cabang Malang yang tidak mau mengikuti agenda tersebut dengan berbagai macam alasan dan rasionalisasinya. Ada yang beralasan terkendala jaringan, ada juga yang beralasan tidak punya kuota dan masih banyak lagi alasan yang lainnya. Tetapi bagi penulis selaku salah satu kader HMI Cabang Malang, alasan yang mereka buat adalah statement untuk menolak agenda Sidang Pleno II diadakan secara virtual. Begitu kira-kira pesan yang tersirat menurut penulis.

Bagi penulis, alasan-alasan yang dilontarkan oleh peserta utusan atau peninjau Komisariat selingkup Cabang Malang hanya berputar pada permasalahan teknis saja dan semua itu dapat dicari solusinya.Lebih daripada itu apabila kita hanya menggeluti dipermasalahan teknis, maka sudah dapat dikatakan bahwasannya peserta utusan atau peninjau HMI Cabang Malang gagap dan goblok dalam menghadapi serta menjawab kondisi zaman yang sedang berlangsung pada saat ini yakni era disrupsi. Itulah maksud daripada “kejumudan HmI bukanlah kata tanpa fakta”. Bak seorang pejuang yang ingin memenangi perperangan tetapi tidak mau terjun langsung dalam medan perang. Mengutip dari pernyataan Cak Nur, bahwa salah satu syarat utama dalam suksesnya perjuangan adalah Ketepatan penelaahan kepada medan perjuangan guna dapat menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh, berupa program perjuangan atau kerja.

Penulis menganalogikan peserta utusan atau peninjau adalah seorang pejuang yang ingin mengsukseskan perjuangannya yakni dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana yang tercetus dalam tujuan HmI. Sedangkan era disrupsi adalah medang perang yang harus dihadapi oleh para peserta utusan atau peninjau komisariat. Penulis mengatakan gagap dalam artian bahwa peserta utusan atau peninjau lambat dalam merespon terhadap era disrupsi yang mengharuskan umat manusia untuk memanfaatkan teknologi dalam memudahkan aktifitas kegiatannya sedangkan penulis mengatakan goblok dalam artian ketika peserta utusan atau peninjau sudah mengetahui ada platform atau aplikasi sebagai solusi yang dapat memudahkan aktifitasnya, bukannya diikuti alurnya malah masih bersikukuh dengan alasannya yang bagi penulis bukannya memberikan solusi yang solutif tetapi hanya sebuah alasan yang membagongkan.

Dalam rangka lepas landas dari kejumudan HMI itu, penulis menyarankan kepada para peserta utusan atau peninjau Komisariat HMI Cabang Malang untuk koorperatif dan partisipatif dalam mensukseskan Agenda Lanjutan Pleno II HMI Cabang Malang secara virtual. Selain itu, penulis juga menyarankan kepada peserta utusan atau peninjau secara khusus dan HMI secara umum untuk mengingat selalu terhadap Nur HMI. Nur HMI bagi penulis memiliki maksud bahwa HMI memuat estetik, balance, progresifitas, kebenaran dan kebaikan.

Hal ini, dimaksudkan agar HMI selalu membawa kesejukan, keindahan bagi masyarakat di setiap kiprah organisasi dan kadernya. “Nur dalam bahasa Arab memiliki arti cahaya. Dalam Al Qur’an kata Nur disematkan kepada Allah Swt. Dan setiap manusia menurut filsafat isyroqi memiliki cahaya ke-Tuhan-an yang mendorong mereka berbuat baik. Harapannya, gerakan Nur ini sebagai upaya mendorong HMI sebagai garda terdepan menjawab kondisi realitas dalam rangka menuju kebaikan dan kebenaran.

Abimanyu Iqbal Soesanto – Kader Komisariat Agama Islam HMI Cabang Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here