Beranda Opini Rekontruksi Gerakan Kohati yang Mencerahkan Peradaban Bangsa

Rekontruksi Gerakan Kohati yang Mencerahkan Peradaban Bangsa

KOHATI, KOHATI PB, Rekontruksi Gerakan KOHATI yang Mencerahkan Peradaban Bangsa, Ketua Umum Kohati Cabang Cirebon Komisariat Tarbiyah, kitakohati, HMI, Himpunan Mahasiswa Islam, Korps HMI-Wati, IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Ketua Umum Kohati Komisariat Tarbiyah 2019-2020 Ayunda Azizatussoliha dan Sekretaris Umum Kohati Komisarait Tarbiyah Ayunda Firda Khaerun Nisa.

Oleh, Azizatussoliha (Ketua Umum Kohati Cabang Cirebon Komisariat Tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon Refleksi International Woman Day’s )

Kedudukan wanita dalam pandangan umat-umat sebelum Islam adalah sangat rendah dan hina,mereka menganggapnya sebagai manusia yang mempunyai roh, atau hanya menganggapnya dari roh yang hina. Bagi mereka, wanita adalah pangkal keburukan dan sumber bencana. Bahkan dijelaskan oleh Bambang Purwanto (2006) bahwa ternyata ”…baik secara sadar atau tidak, realitas historis perempuan telah diabaikan sebagai bagian dari proses sejarah..”. Mengulas sejarah bahwa perlakuan pada zaman jahiliyah mengubur perempuan hidup-hidup karena khawatir tidak bisa memberikan nafkah. Dari kenyataan sejarah di atas, telah memperlihatkan bagaimana malangnya nasib wanita pada masa silam. Perempuan dalam kehidupan sosial selalu diasumsikan sebagai the second sex yang sangat menentukan mode representasi sosial tentang status dan peran perempuan. Islam secara ideal membuka kesempatan dan peran yang setara bagi laki-laki dan perempuan untuk berprestasi, dalam berbagai bidang kehidupan serta selalu meningkatkan keimanan serta ketakwaannya. Menurut ajaran Islam, pada dasarnya Allah menciptakan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, semata-mata ditujukan agar mereka mampu mendarmabaktikan dirinya untuk mengabdi kepada Allah. dalam QS. Az Zariyat [51]: 56 dinyatakan: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Namun, dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan kodrat dan martabat perempuan, Islam menempatkan sesuai dengan kedudukannya.

Islam menghendaki agar perempuan berbuat dalam aktivitas sosial atau aktivitas kemanusiaan dan berpartisipasi aktif dalam membangun jati diri yang tangguh dan rabbaniah sebagai seorang muslimah. Bahkan menghendaki pula untuk berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa Indonesia ini. Karena itu harus ada penataan ulang intelektualitas perempuan Islam Indonesia agar memiliki derajat yang tidak lagi dipandang rendah serta memiliki daya guna. Korps HMI Wati (Kohati) adalah Salah satu cara untuk merekonstruksi intelektualitas perempuan, dengan meningkatkan mutu kualitas seperti aktif mengikuti pelatihan-pelatihan khusus yang bersifat membangun untuk kemandiriannya. Perlunya upaya rekonstruksi gerakan dan semangat Kohati dalam meningkatkan intelektualitas ditujukan supaya kohati ini semakin maju dengan perannya sebagai organisasi perempuan dalam menanggapi setiap isu keperempuanan dalam negeri. Sebagaimana perannya sebagai pembina dan pendidik dalam menyebarluaskan kebajikan atau dakwah di berbagai sector seharusnya dapat dieksekusi oleh Hmi-wati tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar …” (QS. At-Taubah: 71).

Kohati harus seimbang dalam membentuk eksistensi organisasi dan memeliharanya lalu menjaga pilar utama masyarakat, yaitu moral yang peranan perempuan yang sangat penting di dalamnya. Bahkan pilar ini akan segera runtuh apabila kaum perempuan lemah. Membangun bangsa Indonesia ini nampaknya harus dimulai dari rekonstruksi semangat dalam suatu pergerakan organisasi perempuan, baik dalam hal intelektualitas maupun menanggapi isu-isu yang berkembang dalam negeri (aksi), sebagai ibu ataupun calon ibu. Intelektualitas dan pemahaman yang baik akan memberikan efek baik pula terhadap aktivitasnya, baik dalam bergaul dengan masyarakat, membangun organisasi, menaikan eksistensi diri maupun mengasuh anak dan membangun keluaraga. Sehingga yang diharapkan adalah munculnya kembali perempuan-perempuan luar biasa yang telah menyejarah. Seperti Dewi Sartika, Kartini, Rohana Kudus, Sultanah Safiatudin, Cut Nyak Dien dan sebagainya. Perempuan-perempuan yang telah menyejarah tadi pasti tidak lepas dari gemblengan dan didikan yang dilakukan oleh Ibu (orang tua) dan para gurunya. Kita tentunya merindukan para perempuan (Ibu) yang akan melahirkan banyak pahlawan. Itu semua dapat terwujud dengan pola pendidikan yang baik dalam organisasi.

Muslikhati (2004) memberikan penjelasan bahwa bagi seorang anak, ibu adalah sosok yang dekat dengan makna kelembutan, kasih sayang, kedamaian, pengorbanan dan pengabdian yang tulus tanpa pamrih. Peran ibu sangat besar dalam mewarnai corak sebuah generasi. Wajar dalam Muqodimah PDK dikatakan, “wanita adalah tiang negara”, di mana keberadaan dan peranannya akan menentukan kualitas sebuah bangsa. Bahkan, Islam menyematkan pujian yang tidak kepalang tanggung pada wanita dengan mengqiyaskan bahwa “surga di bawah telapak kaki ibu”. Demikian tinggi penghargaan Islam terhadap kaum ibu. Maka, muslimah mana yang tidak ingin berperan sebagai ibu yang baik, sementara kedudukan ini adalah yang paling ideal bagi seorang wanita. Maka, Peran Kohati mempunyai andil yang besar bagi terwujudnya peradaban bangsa yang sejahtera dengan kualitas intelektual yang baik. Setidak-tidaknya peranan strategis Kohati dalam menyukseskan pembangunan untuk kemajuan bangsa dapat dilakukan melalui:

  1. Peranan hmi-wati dalam keluarga, Perempuan merupakan benteng utama dalam keluarga. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dimulai dari peran hmi-wati dalam memberikan pendidikan kepada anaknya sebagai generasi penerus bangsa.
  2. Peranan hmi-wati sebagai Pembina dan pendidik, Jumlah perempuan yang demikian besar merupakan aset dan problematika di bidang ketenaga kerjaan. Dengan mengelola potensi hmi-wati melalui kajian dan pelatihan maka tenaga kerja perempuan akan semakin menempati posisi yang lebih terhormat untuk mampu mengangkat derajat bangsa.
  3. Peranan hmi-wati sebagai Akselerasi dalam bidang ekonomi dan politik,  di sektor ekonomi hmi-wati dapat membantu peningkatan ekonomi keluarga melalaui berbagai jalur baik kewirausahaan maupun sebagai tenaga kerja yang terdidik lalu dalam bidang politik hmi-wati dapat berperan sebagai pengendali kebijakan.
  4. Peranan hmi-wati sebagai penggiat eko-feminisme, Kerusakan lingkungan yang semakin parah karena proses industrialisasi maupun pembajakan liar perlu proses reboisasi dan perawatan lingkunga secara intensif. Dalam hal ini hmi-wati memiliki potensi yang besar untuk berperan serta dalam penataan dan pelestarian lingkungan.

Rekonstruksi gerakan Kohati adalah dengan meningkatan intelektualitas hmi-wati yang diharapkan pada akhirnya akan membentuk kepribadian muslimah yang berkualitas insan cita. Secara nilai-nilai yang membentuk paradigma, mentalitas serta karakternya adalah bersumber dari kehendak-kehendak Allah (Alquran dan Sunnah). Hal pertama yang harus direkonstruksi adalah afiliasi atau komitmen terhadap Islam sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas dan karakternya. Komitmen secara aqidah, yang menetapkan tujuan dan orientasi kehidupan. Komitmen secara ibadah, yang menentukan pola dan jalan kehidupan. Komitmen secara akhlak, yang menentukan pola sikap dan perilaku dalam seluruh aspek kehidupan. Setelah proses pembentukan kepribadian melalui tahap afiliasi, maka tahap selanjutnya adalah proses pengkaderan yang sehat, pada tahap ini hmi-wati digodog secara mental dan intelektual untuk dipersiapkan sebagai kader yang tahan banting, dan independen, juga dipersiapan sebagai pembina dan pendidik yang amanah. Lalu setelah proses kaderisasi yang sehat selanjutnya adalah partisipasi. Pada tahap inilah hmi-wati diharuskan untuk melebur dan bersinergi dengan masyarakat untuk mendistribusikan intelektualnya. Komitmen untuk selalu menjadi faktor pemberi atau pembawa manfaat dalam masyarakat. Dan komitmen untuk selalu menjadi faktor perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial. Tahap rekonstruksi terakhir adalah kontribusi, di mana hmi-wati telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya (keluarga, pmasyarakat, dan perusahaan/ kantor) dan berusaha meningkatkan efisiensi dan efektifitas hidupnya. Hal yang dilakukan dalam tahap kontribusi ini menurut Matta  adalah dengan cara menajamkan posisi dan perannya, sesuatu yang kemudian menjadi spesialisasinya, agar ia lebih tepat dan sesuai dengan kompetensinya. Dengan cara itulah hmi-wati dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya, dan menyiapkan sebuah ”amal unggulan” atau karya terbesar dalam hidupnya.