Beranda Opini Sikap Rasisme Bertentangan dengan Prinsip Hak Asasi Manusia

Sikap Rasisme Bertentangan dengan Prinsip Hak Asasi Manusia

Koordinator Komunitas Inclusive, Irfan Efendi

Perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 lau, terselip duka mendalam bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang sadar dan peduli, pasalnya belasan aktivis mahasiswa Papua yang tergabung dalam masa aksi 15 Agustus 2019 lalu mendapatkan tindakan biadab oleh pihak tak bertanggungjawab. Kami mensinyalir tindakan biadab itu bukan saja tergolong kriminal akan tetapi sudah mengarah pada tindakan melawan prinsip kemanusiaan.

Kasus yang menimpa anak bangsa semacam itu bukan hanya terjadi sekali dua kali, melainkan berentetan. Konflik yang terjadi di Malang juga berbuntut panjang hingga Surabaya. Tindakan kejam dan cara – cara kasar itu terulang lagi, putra Papua kembali menjadi sasaran korban tindakan sewenang-wenang.

Kami tidak menginginkan konflik itu terjadi kian melebar, kami melihat konflik ini cukup syarat dengan muatan rasisme, jadi berpotensi meluber ke berbagai wilayah – wilayah tertentu, kita sudah mendengar, ada bentuk – bentuk kekerasan verbal itu terjadi, misalnya sebutan monyet yang dialamatkan kepada kelompok tertentu itu terekam dengan jelas. Perbuatan itu sangat mencoreng keluhuran nilai yang dibangun segenap founding father atas bangsa ini.

Ironis, jika sebagian besar manusia mengaku bertuhan dan menolak keras teori evolusi Darwin tapi menyebut manusia sebagai monyet. Saya pikir ini bentuk kesesatan nalar dan kebutaan moral susila secara mutlak. Justru tindakan rasis dan fanatisme kesukuan semacam itu sangat bertentangan dengan prinsip nasionalisme kita, sikap nasionalisme sempit itu terkadang meruntuhkan kebinekaan. Kita tidak boleh merasa benar sebagai mayoritas. Sikap arogan, merasa superior, sombong, dan paling berkuasa sesungguhnya mengarah pada sikap tirani.

Oleh sebab itulah Komunitas Inclusive, ingin menjadi minoritas aktif dalam mewujudkan kehidupan harmonis, berkeadilan dan berkadaban.

Mengulas ikhwal Pembukaan UUD 1945, “ Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Atas dasar itulah bangsa Indonesia harus berdiri tegak sebagai nation yang konsisten menjalankan proses humanisasi universal di setiap rumusan kebijakannya, baik nasional maupun internasional. Hal yang sama juga terncantum dalam mukaddimah Deklarasi Universal HAM PBB, disana terdapat frase bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak – hak yang sama dan tidak dapat dihilangkan dari semua anggota masyarakat manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan dan perdamaian duniam

Pasal 3 Deklarasi Universal HAM PBB juga berbunyi : “Setiap orang berhak atas penghidupan, kemerdekaan dan keselamatan”. Pasal ini menandaskan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup dan orang lain wajib menghormati dan menjaga hak paling dasar setiap manusia. Jadi tindakan menyerang, memukul, melukai, meracuni apapun yang mengarah kepada hilangnya nyawa manusia merupakan perbuatan melawan kemanusiaan universal.

Sejatinya tidak akan bertahan lama suatu negara yang melawan prinsip – prinsip yang dia bangun sendiri, bila ia munafik dan melanggar nilai luhur yang seharusnya ia tegakkan.

Oleh, Irfan Efendi (Koordinator Komunitas Inclusive Malang)