Beranda Agama Soekarno, PKI dan HMI di Ambang Pembubaran

Soekarno, PKI dan HMI di Ambang Pembubaran

MHR Shikka Songge, Soekarno PKI dan HMI di Ambang Pembubaran, HMI dan PKI, Soekarno Batal Bubarkan HMI, Soekarno dan HMI, Partai Komunis, PKI, PNI, Masyhumi, Masyumi di Bubarkan, HMI dan Masyahumi, DN Aidit, PKI Ganyang HMI, Sejarah HMI, Sejarah Perjuangan HMI, Syaifuddin Zuhri HMI, G30SPKI, PKI vs HMI, Shikka Songge
MHR. Shikka Songge (Peneliti Politik dan Sosial Keagamaan CIDES, Presiden Pergerakan Mubalig Indonesia (PMI), Tokoh HMI).

Oleh, MHR. Shikka Songge (Peneliti Politik dan Sosial Keagamaan CIDES, Presiden Pergerakan Mubalig Indonesia (PMI), Instruktur Nasional NDP HMI)

KARNA.id — Suatu kelaziman bagi setiap tokoh apalagi pemimpin selalu memiliki obsesi besar untuk menjadi masyhur dan mempengaruhi arah dunia dengan pemikiran besarnya. Hal itu tidak terkecuali bagi manusia manapun termasuk Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi Soekarno.

Sejarah menjelaskan bahwa Soekarno pernah menorehkan satu impian politik yang menomental dan mengundang perhatian dunia Internasional. Yaitu Soekarno ingin menginternalisasi dan menginstitusikan faham Nasionalisme, Agama dan Komunisme dalam satu konsepsi politik yang disebut Nasakom dan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia.

Pemikiran Soekarno tentang konstruksi Nasakom adalah tawaran baru kepada anak-anak bangsa, tumpah darah. Bahwa ia memiliki sebuah obsesi besar untuk menjadikan Nasakom sebagai ideologi alternatif yang menyatukan bangsa. Bagi Soekarno faham Nasionalism, Agama, dan Komunisme tidak perlu dipertentangkan secara diametral dalam membangun ketahanan nasional untuk menghadapi imperialisasi ekonomi dan politik global.

Dari sini Soekarno bergerak membuka peta kepemimpinan politik baru sebagai Pemimpin dunia. Gagasan Nasakom sebagai sintesa dari tesa tesa yang berkembang diberbagai belahan dunia, yang mengunggulkan agama, nasional dan marxis. Nah Soekarno sebagai pemimpin dunia di abad 20 ia ingin mengalahkan pemimpinan besar lainnya dibelahan dunia Timur maupun Barat dengan konsep Nasakom.

Baca juga: MHR. Shikka Songge: Andaikan Saya Presiden Joko Widodo

Dalam konteks Indonesia, upaya Soekarno mewujudkan impian itu ternyata harus dibayar dengan harga yang mahal. Soekarno tega melepaskan kawan seperjuangan mendirikan Indonesia. Soekarno mengabaikan tatanan demokrasi yang seharusnya diperlukan untuk mengelola dan menata bangunan kebernegaraan yang lebih baik di masa-masa mendatang. Soekarno mengabaikan perasaan keberagamaan tokoh dan umat Islam dalam perjuangan menyusun kemerdekaan Indonesia.

Pertama, Soekarno memberi Karpet Merah dan membuka ruang yang terbuka dalam kancah politik bagi Partai Komunis Indonesia (PKI) Pimpinan DN Aidit. Dan dari situ PKI mendapat angin segar untuk secara terbuka terus berkonsulidasi, memperkuat sinergisitas kepentingan terutama dukungan politik kepada Soekarno yang ambisius.

Meski Soekarno tahu dan menyadari bahwa PKI pimpinan Muso pernah melakukan Pemberontakan di Madiun tahun 1948 yang membunuh para kiyai, santri, membangkar masjid dan pondok pesantren. Peristiwa Kanigoro, dimana PII (Pelajar Islam Indonesia) sedang Training dibakar di bunuh dalam gedung. Tak Terkecuali Pondok Modern Gontor Ponorogo, Kiyai, Santri dan Para guru gurunya diobok obok, diserbu oleh PKI. Pak Kiyai Ahmad Sahal dan adiknya KH Imam Zarkasyi, bersama Santri terpaksa mengasingkan diri ke gua Slahung cukup jauh dari Gontor.

Yang tragis, para ulama kiyai yang alim dan ustaz yang takzim di desa desa dibantai, dibunuh secara sadis dan keji lalu dibuang ke dalam sumur atau sungai. Para pemuka Islam pimpinan pondok pesantren menjadi musuh bagi Partai Komunis. Benarkah sadisme itu menjadi watak dan karakter politik anak bangsa, atau karakter ideologi tanpa Tuhan.

Dari sini PKI seperti lupa diri bahwa pernah menorehkan sejarah kelam, pemberontakan yang sadis dan keji kepada tokoh islam. PKI terus berkonsolidasi dan mengikut Pemilu Pertama tahun 1955 dan PKI keluar sebagai 4 pemenang besar: PNI, Masyumi, NU dan PKI.

Kedua, Perjalanan politik ke depan Syahwat Politik Soekarno dengan dukungan PKI makin tak terkendali. Nampaknya Soekarno makin otoriter, sehingga membubarkan Konstituante. Sementara kontestuante telah berupaya melahirkan konstitusi negara yang sangat modern, Kata Dr. Adnan Buyung Nasutian. Meski Indonesia baru saja merdeka, tetapi sudah memiliki konstitusi negara yang maju dan berperadaban.

Kedua, Perbedaan semakin tajam dengan tokoh pelopor penggerak kemerdekaan, terutama Dr.Muhammad Hatta sang Proklamator terkait cara pandang dan pengelolaan pemerintahan negara. Nampaknya Soekarno membiarkan M. Hatta memilih mundur diri dari Wapres. Hatta sepertinya tak sanggup melihat Soekarno dengan berbagai akrobatiknya yang mengabaikan norma dan standar bernegara. Dan Soekarno akhirnya memimpin Negeri Indonesia tanpa Wapres, semakin buruk kualitas kepemimpinan dari cara berdemokrasi.

Keempat, Soekarno secara perlahan tapi akhirnya menyingkirkan lalu membubarkan Masyumi 1960. Soekarno sepertinya lupa kalau M. Natsir pimpinan Masyumi telah mengukuhkan secara utuh Soekarno sebagai Presiden NKRI melalui mosi integralistik M. Natsir. Soekarno juga lupa kepemimpinannya sebagai Presiden juga diselamatkan oleh Syafruddin Perwinegara sebagai Pemimpin Kepala Pemerintahan Darurat RI, di Bukit Tinggi saat Soekarno Hatta dkk ditawan oleh Belanda di Yogyakarta. Natsir dan Syafruddin keduanya adalah merupakan pemimpin Masyumi yang berjasa besar pada Soekarno. Setelah itu menyusul Pembubaran PSI dan Murba bahkan mengancam untuk membubarkan HMI. Betul betul Soekarno telah dihasut oleh PKI untuk bertindak otoriter nyaris menjadi diktator.

Dalam acara pembukaan kongres CGMI sebuah organisasi mahasiswa yang merupakan underbow PKI, di Gelora Istora Senayan, di hadapan 25 000 anggota CGMI DN Aidit berpidato yang berapi-api. Ia memperingatkan dan meminta kepada CGMI untuk membubarkan HMI. Bahwa membubarkan HMI adalah perkara mudah, serahkan saja pada CGMI. Jika CGMI tidak sanggup membubarkan HMI maka sebaiknya kalian pulang saja, dan ganti celana dalam kalian dengan memakai sarung.

Di forum di depan Istana Merdeka, apel CGMI untuk meminta Pemerintah Soekarno membubarkan HMI. Dalam kesempatan Lei Mena mewakili Pemerintah memberikan jawaban atas tuntutan pembubaran HMI, bahwa Pemerintah tidak punya program untuk membubarkan HMI, karena HMI organisasi mahasiswa yang berfront nasionalist, pendukung revolusi. Dalam kesempatan yang sama Soekarno dalam Pidatonya menggaris bawahi Pidato Lei Mena itu, bahwa Pemerintah tidak punya program untuk membubarkan HMI.

Aidit kecewa dan masa menjadi reaksioner. Maka GPII dan PII bersama ormas Islam yang lain mengkonsulidasikan pergerakan melakukan aksi tandingan pembelaan pada HMI. Berbagai poster spanduk PII menumpah sepanjang jalan. Langkahilah mayat PII sebelum membubarkan HMI. Isu Poster jihad PII sebagai perlawanan kepada DN Aidit dan CGMI.

Dalam suatu rapat terbatas, Soekarno menyampaikan pendangan dan keinginan kepada Syaifuddin Zuhri, Menteri Agama saat itu. Bahwa Pemerintah akan membubarkan HMI. Pernyataan ini seakan menusuk jantung Syaifuddin Zuhri. Seketika Syaifuddin menjawab kalau hal itu yang Bapak lakukan, maka tentu akan menjatuhkan bapak Sendiri.

Lanjut Syaifuddin Zuhri apa alasan Bapak hendak membubarkan HMI ? Jawaban Soekarno, HMI kontra revolusi. Tanya lagi Syaifuddin apa kadar kontra revolusinya? Soekarno menjawab HMI berfikir liberalis, pro ke barat baratan, merusak adat istiadat. Jawab Syaifuddin Zuhri kalau hal itu yang bapak lakukan, maka sampai disinilah tugas saya membantu Bapak. Suasana tertegun kaku dan membisu.

Beberapa saat kemudian Soekarno melerai ketegangan itu seraya mengatakan saya tetap membutuhkan sampean. Tetapi saya minta jaminan, kamu Syaifuddin, Ruslan Abdul Gani dan Syarif Thaeb membina HMI. Di sini Bapak KH. Syafuddin Zuhri orang kandung dari Lukman Hakiem Syaifuddin, amat berjasa mencegah Soekarno bertindak otoriter atas hasutan pimpinan PKI untuk membubarkan HMI.

Dan kemudian terbukti Soekarno gagal mewujudkan impiannya yang supper dahsyat itu setelah kegagalan G30S PKI yang melakukan kudeta dengan menculik dan membunuh 7 Jendral Angkatan Darat yang diisukan membentuk Dewan Revolusi. Satu Partai Politik merebut kekuasaan bukan dengan kontestasi yang sehat, bertarung di Pemilu, melainkan dengan menculik, menembak, menyiksa dan dimasukkan ke sumur, yang sekarang dikenal dengan sebutan Lubang Buaya. Tempat penguburan para jendral yang diculik itu.

Penculikan 7 Jenderal, di malam 30 September 1965, dan Lubang Buaya merupakan peristiwa berdarah yang amat tragis. Peristiwa kelam yang menunjukan politik manusia yang tak bertuhan hanya kekejaman dan kebiadaban yang mereka torehkan. Kenangan buruk ini sulit rasanya dilupakan oleh bangsa ini tentang kebiadaban PKI. Mereka membunuh saudara sendiri. Hanya kekuasaan PKI tega membunuh saudaranya sendiri.

Lalu sekarang anak cucu gembong PKI cuci tangan yang berlumuran darah. Mereka berlindung dibalik HAM dan demokrasi, mereka berlindung minta dipulihkan nama baik. Bahkan mendesak Presiden Joko Widodo untuk dan atas nama negara meminta maaf kepada keluarga anak cucu turunan PKI. Seakan PKI tidak punya dosa politik atas pembantaian Jenderal dan umat Islam.

Sejarah perjalanan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas dan keunggulan pemikiran anak anak bangsanya sendiri. Dan suatu pemikiran itu memiliki daya tahan pada ambang batas tersendiri. Tidak ada suatu pemikiran manusia berlaku absolut sepanjang zaman.

Daya tahan suatu pemikiran tidak akan melampaui ruang dan waktu, melainkan dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu itu sendiri. Kecuali Firman Allah dan Hadits Rosulullah berlaku absolut sepanjang dunia ini. Kalamallah dan hadist Rosulullah berakhir bersamaan dengan berakhirnya peran dan tugas manusia sebagai khalifatullah.

Olehnya sebagai anak bangsa jujurlah pada sejarah bahwa Pikiran Soekarno tentang Nasakom, yang mencakup doktrin PKI yang bersandar pada ajaran Marxisme juga Nasionalism memiliki keterbatasan. Dewasa ini nasionalisme juga rubuh, terdekonstrucsi akibat spremasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di forum ILC tadi malam saya mengamati uraian Sukmawati anak biologis Soekarno kehilangan logika ketika menjelaskan ideologi Partai Komunis Indonesia. Sukma tergopoh gopoh menjawab bahwa Ideologi PKI adalah Pancasila.

Bagaimana mungkin seorang yang A Teistis Marxis dalam waktu yang bersamaan bisa menerima Pancasila sebagai ideologi ? Padahal dalam Pancasila terdapat sila pertama berbunyi Ketuhanan Maha Esa. Mungkin Pancasila yang dimaksud Ibu Sukmawati yaitu Eka Sila, yaitu Ketuhanan yang Berkebudayaan.

Sungguh paradoks jika Tuhan yang maha mutlaq, Tuhan yang absolut, Tuhan yang tidak berserupa dengan segala sesuatu, memiliki prilaku berbudaya. Keberbudayaan itu satu kata kerja sekaligus kata sifat yang melekat pada mahluk hidup, manusia misalnya. Jadi termenologi Tuhan yang berkebudayaan sama halnya menyamakan Tuhan adalah sesuatu zat yang bernyawa, yang bisa beractivitas, bertindak tanduk yang membuahkan karya budaya. Terminologi ini sungguh menyesatkan dan merusak keimanan orang orang beragama khususnya umat muslim.

Eka Sila dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Sementara perumusan Pancasila oleh BPUPKI ialah Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dimana dalam sila pertama tercantum Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Sedangkan Pancasila 18 agustus 1945 adalah Pancasila tanpa 7 kata dalam sila pertama. Hilangnya 7 kata itu demi menjaga keutuhan dan kebersamaan anak-anak bangsa mewujudkan Indonesia Merdeka.

PKI selalu dengan kelicikan yang cerdik menggunakan logika apologistic untuk menolak setiap tuduhan atau anggapan bahwa komunisme bangkit kembali.

Pendekatan ferbalisme seringkali hadir sebagai argumentasi, untuk menganulir bahwa komunisme sebagai sebuah pemikiran digandrungi oleh para peminat literasi. Tetap komunisme sebagai institusi sdh bubar dan tidak bangkit lagi sebagaimana komunisme di Eropa Timur dan Rusia.

Tetapi di sisi lain belakang ini ada tragedi pembantaian, pembunuhan ulama, ustadz, perusakan rumah ibadah, diikuti pengembangan politik adu domba, politik belah bambu. Tentu digerakan oleh kelompok laten yang terorganisir. Pro kontra khilafah dan Pancasila juga dalangnya PKI. Sebab sejak reformasi kita tidak punya masalah antara Pancasila, NKRI dan Khilafah. Pertanyaannya adakah sejarah pemberontakan berdarah di negeri ini oleh umat Islam untuk mendirikan negara khilafah?

Lalu apa argumentasi yang melatari hadirnya UU Haluan Ideologi Pancasila yang riuh di akar politik Indonesia ? Ternyata arahnya ingin mengembalikan Pikiran Soekarno tentang Eka Sela, yaitu Ketuhanan Berkebudayaan. Mengganti Pancasila menjadi Eka Sila tentu sesuatu yang berbahaya tidak saja berkaitan Pancasila tetapi keyakinan muslim tentang moneteisme pada sila pertama Pancasila.

Olehnya umat Islam sangat mewaspadai terhadap upaya pihak tertentu yang hendak menganulir Lima Sila menjadi Eka Sila. Dari sini rupanya Penerus Soekarnois belum berakhir cita-cita politik menghidupkan paham yang pernah dikembangkan Soekarno.

Lantas apa tugasmu HMI dimasa kini dan akan datang ketika melihat wacana dan kecenderungan bangkitnya PKI di Tanah Air?