Beranda Opini Surat Cinta untuk Kampus Harapan

Surat Cinta untuk Kampus Harapan

Covid-19, Virus Corona, Sekolah Libur Covid-19, Pandemi Covid-19, Corona di Indonesia, UN ditiadakan, Mahasiswa dan Corona
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Haziz Hidayat saat orasi di depan gedung DPRD Kota Malang

Karna.id — Serangan coronavirus telah merembah ke 200 negara yang ada di dunia. Tak ayal pandemi yang mulai meluas pada akhir 2019 ini telah merenggut jutaan manusia yang ada di dunia ini. Sebut saja, Amerika sebagai negara adikuasapun tak bisa menahan serangan dari pandemi covid-19 ini. Sejak tulisan ini dibuat kasus yang terjadi di Amerika sekitar 394.587 kasus, 12.748 meninggal dunia dan 21.674 dinyatakan sembuh.

Sementara itu, Indonesia selama ini tercatat sebagai negara yang cukup dekat dengan asal pandemi. Baik itu dekat secara geogratis maupun dekat dalam hubungan bilateral lainnya. Saat ini telah terdampak pandemi Covid-19. Data per 7 april 2020 sudah mencapai 2.738 kasus, meninggal dunia 204 dan yang dinyatakan sembuh berjumlah 204.

Pemerintah Indonesia nampak kewalahan menghadapi serangan covid-19. Kondisi ini dapat dilihat dari sejumlah kebijakan yang dibuat seperti social distancing yang berubah jadi physical distancing, pembatasan sejumlah jalur lalu lintas antar daerah hingga kebijakan terkati darurat sipil dalam menghadapi pandemi ini. Sektor pendidikan juga harus direlakan dalam memutus rantai penyebaran covid-19. Dari jenjang Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi  diliburkan selama 14 hari bahkan lebih hingga waktu yang tidak diketahui.

Ujian Nasional telah dihapuskan dan perkuliahan daring pun dimasifkan bagi para mahasiswa guna menghindari kontak fisik antar individu. Dalam menjalankan kuliah daring atau kuliah online tak semuanya berjalan lancar dan sesuai harapan. Banyak kendala yang yang di hadapi oleh semua pihak baik dari pihak mahasiswa itu sendiri begitu juga kendala yang di hadapi oleh pihak dosen.

Covid-19 dalam Pandangan Mahasiswa

Mengawalinya dari mahasiswa yang di mana mereka salah satu korban dari wabah ini. Sedikit senang dan banyak susah sudah menjadi santapan yang dihadapi oleh para mahasiswa pasca adanya  kebijakan online atau daring ini. Apabila dipandang dari aspek positifnya tentu saja ada yakni BMM kendaraan berkurang karena tidak bolak balik kampus. Lebih jauh, biaya kos-kosan bisa di potong bagi yang bulanan.

Namun, dampak negatif justru lebih terasa dalam berjalannya perkuliahan online atau daring ini. Diantaranya, beberapa dari mahasiswa yang masih mengeluhkan terkait layanan jaringan atau internet. Baik  itu yang diberikan kampus ataupun jaringan di daerah-daerah yang masih tidak sesuai dengan harapan. Kemudian ketidakteraturan jadwal yang ada pun mengakibatkan  tugas yang diberikan oleh dosenpun rata-rata dalam waktu yang bersamaan hingga mengakibatkatkan para mahasiswa kewalahan dalam memulai setiap tugas yang diberikan di waktu yang singkat. Dan juga keterbatasan komunikasi yang sangat terasa dialami oleh mahasiswa terkait dengan penugasan kelompok hingga menyebabkan kecanggungan dan kesalahpahaman antar individu mereka.   

Melihat dari sudut pandang yang berbeda, dengan kegiatan yang #dirumahsaja tentu yang di kerjakan bukan saja tentang perkuliahan. Namun, ada orang tua, ada keluarga yang perlu di bantu dalam kesehariannya hingga mengurangi waktu untuk mengerjakan tugas dari dosen. Kemudian yang terakhir yang sering menjadi bahan kontroversial saat ini dari pihak mmahasiswa adalah keuangan. Baik itu, berupa SPP,DPP,UKT yang tidak nominalnya  entah kemana.

Corona dalam pandangan Dosen

Sekarang beranjak kepada korban selanjutnya sebut saja para dosen yang di sini sebagai ujung tombak generasi. Dalam menjalani masa perkuliahan online atau daring ini para dosen banyak mengalami kendala kendala. Seperti kurang maksimalnya penyampaian materi karena hanya melalui online/daring saja. karena hanya memberikan sebatas power point dan makalah saja. Pertanyaannya apakah mahasiswa membaca apa yang di berikan tersebut.?

Kemudia dalam menjalani perkuliahan online/daring ini merupakan ajang sekaligus peluang untuk pencontekan copy paste masal yang lebih massif dan lebih besar lagi oleh mahasiswa. Karena minimnya buku acuan ataupun Revrensi yang di miliki oleh  mahasiswa itu sendiri kemudian penutupan perpustakaan perpustakaan kampus ataupun kota.

Belum lagi melihat dosen dosen yang lebih kepada pembelajaran yang bersifat tatap muka karena belum terbiasa dengann alat yang namanya teknologi. Pasti sebuah kepusingan tersendiri untuk merubah konsep dan belajar tentang teknologi dalam beberapa minggu saja.

Jalan Tengah Covid-19

Kemudian sedikit mencari jalan tengah  yang dapat penulis berikan dalam selama perkuliahan online/daring ini. Komunikasi atpun koordinasi harus berjalan lancar baik yang bersifat horinsontal (Mahasiswa=Mahsiswa) ataupun yang bersifat  vertikal (Mahasiswa=Dosen). Kemudiann prihal keuangan, kampus bisa saja mengambil kebijakan dengan melihat situasi dan kondisi saat ini di mana aksesoris kampus tidak di gunakan dan dari aspek keuangan masyarakat sendiri yang menurun secara signifikan.  Dengan memberikan pemotonngan pemototongan sekian persen (%) untuk semester selanjutnnya.

Prihal masalah layanan kampus bisa bekerja sama dengan para dosen dosen yang ada, terkait menyatukan layanan mengajar online  yang di gunakan selama masa perkuliahan ini dan kemudian bekerja sama dengan pihak layanan tersebut terkait hal hal semacam ini.

Yang terakhir yang  tidak kalah penting di mana kita semua menjadikan masalah masalah ini terkait dengan meningkatkan kualitas diri baik pada bidang tekonologi informasi, pemanfaatan media yang ada tengah industri 4.0 ini. Dan dari pihak mahasiswa untuk meningkatkan kualitasnya dengan memperbanyakak literasi literasi dengan melalui E-jurnal, google schoolar dan semacamnya.

Oleh, Haziz Hidayat (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)