Beranda Opini Syamsul Fikri Membaiat NurSalam

Syamsul Fikri Membaiat NurSalam

Nurdin Ranggarabani, Burhanuddin Jafar Salam, Syamsul Fikri Membaiat Nursalam, Paket NurSalam Sumbawa, Pilkada Sumbawa, Syamsul Fikri Sumbawa, Partai Demokrat Sumbawa, Partai Golkar, Partai Gelora, Pilkada Sumbawa,
Ilustrasi (Foto: Beritagar.id)

KARNA.id — Pidato Syamsul Fikri pada pertemuan sosialisasi pasangan Nursalam membuat sedikit geli mendengarnya. Pasalnya, Syamsul Fikri ketua Timses Nursalam berapi – api pidato walaupun intonasinya tidak tepat.

Intonasi suara sesekali naik, sesekali turun, kadang juga serak untuk menegaskan bahwa NurSalam akan dibaiat sebagai pasangan calon Bupati Sumbawa.

Tetapi, perlu juga mengkritisi ide pembaiatan ini, mengingat syarat-syarat Baiat adalah pemimpin atau perwakilan rakyat tidak pernah berbohong atau berjanji palsu.

Sementara, perjalanan Nursalam, keduanya pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten dan Provinsi secara berturut selama puluhan tahun. Namun, dikala tiba masa pemilu janji-janji itu bertebaran untuk meraup suara. Namun, saat naik menjadi pejabat negara (DPRD) janji itu buyar alias tidak ingat lagi. Sehingga sulit untuk direalisasi.

Dalam hukum Islam, bahwa seseorang pemimpin atau masyarakat biasa mengenal janji itu sebagai syarat utama kejujuran. Apabila tidak terlaksana dalam janji yang utarakan semasa kampanye pada setiap pemilu, Pileg dan pilkada. Maka dianggap pendusta dan berbohong.

Nah, bagaimana mungkin Syamsul Fikri sebagai ketua tim sukses Nursalam ingin membaiat pasangan Nursalam. Karena syarat-syarat tidak terpenuhi yakni pernah berbohong. Kata nasehat dalam agama Islam bahwa orang berjanji tidak menepati janjinya itu, dikatakan pendusta.

Karena posisi pendusta hanya mampu berbicara dan melempar narasi-narasi subjektif kepada masyarakat. Padahal sangat sulit direalisasikan.

Masalah, pasangan Nursalam tidak bisa disamakan dengan sejarah Pembaiatan pemimpin – pemimpinan (Khalifah) dimasa sahabat nabi seperti Umar Bin Khattab, Abu Bakar As Siddiq, Usman Bin Affan dan lain-lainnya.

Sebelum pembaiatan sahabat Nabi SAW memang terjadi perdebatan alot antar sahabat, siapa sebenarnya menjadi pemimpin dikalangan atau kelompok atau masyarakat Arab masa itu.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu ditunjuk sebagai khalifah. Namun penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah diawali perdebatan antara kaum Muhajirin dan Anshar.

Dikutip dari buku Inilah Faktanya dari ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis, Imam al-Bukhari meriwayatkan: Isma’il bin ‘Abdullah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah: ‘Urwah bin az-Zubair: mengabarkan kepadaku dari Aisyah radhiyallahu anha, istri Nabi, ia menuturkan tidak lama setelah Rasulullah wafat, orang-orang Anshar berkumpul menghadap Sa’ad bin ‘Ubadah di saqifah Bani Sa’idah dan berkata: “Kami akan mengangkat pemimpin kami, dan silakan kalian mengangkat pemimpin kalian”. Maka Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah mendatangi mereka.

Kemudian Umar radhiallahu anhu hendak maju untuk berbicara, tetapi Abu Bakar menyuruhnya diam. Umar menuturkan: “Demi Allah, aku berinisiatif angkat bicara terlebih dahulu karena telah mempersiapkan perkataan yang bagus. Aku khawatir apa yang akan dikatakan Abu Bakar tidak seperti perkataan yang telah kupersiapkan”.

Ternyata, Abu Bakar berbicara dengan sangat lugas. Di antara isi pembicaraannya adalah: “Kami yang menjadi para pemimpin, dan kalian menjadi para penasihatnya”.

Al-Hubab bin al-Mundzir radhiallahu anhu menyela: “Demi Allah, kami tidak setuju. Kami mengangkat pemimpin kami, dan kalian juga silakan mengangkat pemimpin kalian”.

Abu Bakar menanggapi: “Tidak demikian, tetapi kami yang menjadi pemimpin dan kalian yang menjadi para penasihatnya. Merekalah (Quraisy) orang-orang Arab yang Paling mulia tempat tinggalnya (Makkah). Mereka jugalah suku yang Paling mewakili Arab yang asli. Maka, bai’atlah Umar atau Abu ‘Ubaidah!”.

Mendengar hal itu, Umar berseru kepada Abu Bakar: “Tidak, tetapi kamilah yang akan membaiat engkau. Engkaulah pemimpin kami, orang yang terbaik di antara kami, dan orang yang paling dicintai Rasulullah di antara kami”.

Kemudian Umar memegang tangan Abu Bakar dan membaiatnya. Lalu, orang-orang yang hadir pun berdiri dan membaiat Abu Bakar. Tiba-tiba, seseorang berseru: “Kalian (hampir saja) membunuh Sa’ad bin ‘Ubadah!”

Umar mengacuhkannya dengan mengatakan: “Semoga Allah membalas perbuatannya”.

Perbandingan antara sejarah Kenabian dan sahabat nabi dengan masa demokrasi saat ini seperti pada Pilkada Sumbawa dipenghujung tahun 2020 ini, tidak bisa disamakan sama sekali untuk membaiat sala satu pasangan Calon sebagai pemimpin.

Karena perbedaan sistem pemilihan sahabat menjadi pemimpin (Khalifah) dengan pilkada Sumbawa hari ini dalam sistem demokrasi lokal, maka sangat tidak cocok dan tidak tepat ide maupun gagasan pembaiatan oleh Syamsul Fikri untuk Pasangan Nursalam.

Kalau pembaiatan masa sahabat, pemimpin tidak dalam posisi bertarung. Tetapi bermusyawarah. Sementara dalam demokrasi lokal Pilkada Sumbawa masih menempuh proses bertarung untuk menang. Belum terpilih siapa pemenangnya.

Jadi, pidato Syamsul Fikri pada acara Nursalam malam ini, dengan isi pembaiatan termasuk gagasan yang dangkal dan tidak tepat sama sekali.

Justru, masyarakat akan menilai Syamsul Fikri dan pasangan Nursalam sangat haus kekuasaan dan hanya mementingkan kelompoknya sehingga tidak tepat juga masyarakat untuk mendukungnya.

Masyarakat pun bisa menilai, bahwa ide proses pembaiatan itu sebagai metode pemaksaan terhadap masyarakat untuk memilih pasangan Nursalam.

Jadi ide Syamsul Fikri atas pembaiatan Nursalam sebagai sebuah kemantapan bertarung dan pemaksaan terhadap masyarakat merupakan bentuk dan cara-cara totaliter.

Demikian pandangan ini, mohon maaf apabila menilaianya subjektif.

Oleh, Ami Salamadani (Tokoh Pemuda Nusa Tenggara Barat)