Beranda Ekonomi Vaksinasi Covid-19 Tak Cukup Bagi Kami

Vaksinasi Covid-19 Tak Cukup Bagi Kami

karna.id — Epidemi Covid-19 dirasakan rakyat tak pernah berakhir meski telah diterapkan protokol kesahatan hingga menghambat laju penyebaran melalui vaksinasi yang dicanangkan pemerintah melalui kementrian kesehatan. Vaksinasi covid-19 gencar dilakukan terhadap setiap orang baik pejabat pemerintah maupun rakyat biasa. Vaksinasi sendiri digadang-gadang dapat memberikan kekebalan tubuh terhadap virus corona.

Epidemi yang tiada habisnya meski diterapkan protokol kesahatan hingga vaksinasi Astrazeneca dirasa tak mampu bahkan merugikan berbagai kalangan masyarakat.
Kerugian masyarakat terjadi apabila hendak melakukan perjalanan keluar daerah meski sudah divaksin tetap harus dilakukan tindakan medis seperti rapid tes, anti body, sweb dan lain-lain sebagai suatu syarat bepergian ke luar daerah menggunakan transportasi darat dan laut.

Sebelum adanya covid-19 setiap orang yang bepergian menggunakan transportasi darat laut hanya perlu membeli tiket (karcis) bila hendak menaiki kapal atau pesawat namun saat ini harus ditambah dengan surat keterangan hasil rapid tes dan hasil sweb.
Secara umum menurut para pakar kesehatan orang yang sudah divaksinasi Covid-19 resiko tertular dan menularkan sangat kecil alias mustahil terinveksi corona, Kendati telah melakukan vaksinasi tapi itu tidak berlaku karena vaksin membuat orang kebal secara kesehatan tapi tidak secara ekonomi.

Rapid tes dan sweb cukup mahal untuk kalangan ekonomi menengah dan ekonomi bawah untuk rapid tes dibandrol seharga Rp 250.000 sedangkan sweb Rp. 275.000 dapat diperoleh di klinik atau rumah sakit pemerintah sekalipun.


Hal ini sangat disayangkan bagi calon penumpang yang harus merogok kocek ditengah kondisi ekonomi yang hampir saja ambruk diterpa pandemi covid-19 dan ditambah bisnis kesehatan yang makin gemuk dan gencarnya aksi para pelaku usaha kesehatan.


Kondisi mental masyarakat hampir hancur kala diberlakukan protokol kesehatan dimana harus memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan dilarang berkerumun. Antisipasi protokol kesehatan menjadikan insting masyarakat memudar, dilakukan rapid tes dan sweb berbayar dompet makin terkuras meski bantuan pemerintah bidang UMKM dan BLT sampai PKH ditaksir sama saja.


Bisnis kesehatan makin menjagal alasan vaksinasi hanya goyonan tanpa perlu rapid dan sweb, Budi Gunadi sang menteri kampanye sosialisasi vaksin aman didalam tubuh, tapi gimana praktek bisnis kesehatan berbayar tanpa peduli nasib rakyat yang terpaksa bayar. Bu mentri Sri Mulyani pernah berkata “tanpa pemulihan kesehatan sulit pemulihan ekonomi berkelanjutan”. Meski logika para pejabat dan rakyat terlampau jauh, covid-19 yang nyatanya hampir memudar ditahan jangan sampai pudar, warnanya dipertahankan hingga kini. Bisa dikatakan covid-19 menjadi alasan klinis para medis berbisnis.