Beranda Opini Mengupas Peran dan Gagasan Perempuan dalam Dunia Pendidikan

Mengupas Peran dan Gagasan Perempuan dalam Dunia Pendidikan

Perempuan dalam Dunia Pendidikan, Perempuan dan Pendidikan, Choirunisah Nurul Aini
ilustrasi (Foto: Kompasiana.com)

karna.id — Perempuan sebelum Islam datang adalah zaman kebodohan yang tidak memahami tulisan dan bacaan ataupun ilmu pengetahuan sama sekali. Setelah Islam datang dengan ajaran yang menjunjung tinggi derajat seorang perempuan seperti dalam QS. An-Nisa dan Islam menyuruh umatnya untuk Iqro’ (Membaca) seperti dalam QS. Al-‘Alaq yang merupakan surat pertama kali yang diturunkan. Tetapi hingga saat ini, Meski Islam sudah hadir ditengah masyarakat muslim.

Baca Juga: Doa Ketika Ada Gempa Bumi Arab, Latin dan Artinya

Banyak hal yang membelenggu perempuan dalam berkiprah, seperti budaya maupun mitos. contohnya, perempuan tidak perlu belajar atau menempuh pendidikan setinggi mungkin karena nantinya setelah menikah akan ada di sumur, dapur dan kasur. Hal seperti ini perlu dipatahkan oleh masyarakat, karena seorang ibu perlu menempuh pendidikan setinggi mungkin sebab akan menjadi madrasatul ula untuk anaknya.

Rasulullah saw, pernah didatangi sekelompok perempuan yang meminta beliau untuk memberikan waktu khusus bagi perempuan untuk belajar langsung kepada beliau. Dan sabda Rasulullah saw yang terkenal “Mencari ilmu wajib hukumnya bagi mukmin laki-laki dan perempuan”.

Jika melihat sejarah Islam banyak menemukan perempuan yang ahli dalam ilmu pengetahuan khususnya, seperti, Aisyah istri Nabi Muhammad saw, Sayyidah Sakinah bin Husyen, Robi’ah Al-Adawiyah dan Mu’nisat Al-Ayubi yang menjadi guru Imam Syafi’i.

Islam mengangkat martabat perempuan dan memberikan kembali hak mereka yang telah diinjak-injak olek kaum laki-laki. Haknya berupa kesempatan dalam pendidikan. Dalam QS. Az-Zumar, “Islam memerintahkan baik laki-laki maupun perempuan agar berilmu pengetahuan dan tidak menjadi orang bodoh. Allah swt, sangat mengecam orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan, baik laki-laki maupun perempuan”.

Pada era tahun 1900-an, Raden Ajeng Kartini berdiri kokoh melawan tradisi yang membatasi perempuan Jawa dalam mengakses pendidikan. Dalam perjuangannya, beliau terus berbicara tentang keterlibatan perempuan dalam sektor pendidikan, bagi beliau perempuan harus setara dengan laki-laki dalam kesempatan memperoleh akses pendidikan. Beliau yakin bahwa perempuan yang memiliki pendidikan yang tinggi mampu mengubah cara berfikir masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup perempuan.

Oleh, Choirunisah Nurul Aini (Kader HMI Cabang Malang Komisariat Agama Islam UMM)